Baiklah, inilah dracin pendek dengan judul "Aku Menatap Langit yang Runtuh, dan Hanya Namamu Tersisa", dengan elemen-elemen yang Anda minta: **Aku Menatap Langit yang Runtuh, dan Hanya Namamu Tersisa** Lorong Istana Timur bagai mulut naga yang menganga, sunyi dan gelap. Hanya obor-obor kuno yang menari liar di dinding, melemparkan bayangan yang berputar seperti ingatan yang terdistorsi. Aroma cendana dan darah samar menguar, menyengat hidung. Di ujung lorong, sosok itu berdiri. Gaun putihnya kontras dengan kegelapan, wajahnya tertutup kabut tipis – seperti hantu yang kembali dari alam baka. "Nona… Bai Lian?" bisik *Kasim Li*, suaranya bergetar seperti daun kering di musim gugur. Bai Lian tidak menjawab. Matanya, sekelam jurang, menatap lurus ke arah Kasim Li. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun ia dianggap mati, terjatuh ke jurang Pegunungan Seribu Bayangan. Sepuluh tahun, orang-orang menikmati kedamaian palsu di atas pusarannya. "Sepuluh tahun," akhirnya Bai Lian bersuara, lirih namun menusuk. "Sepuluh tahun kalian menari di atas kuburanku." Kasim Li menunduk dalam-dalam. "Nona, kami… kami selalu mengenang Anda. Kaisar… Kaisar sangat berduka." Bai Lian tertawa sinis. Tawa itu bagai pecahan kaca yang beterbangan. "Berduka? Kaisar? Ia menikahi adikku sebulan setelah jasadku tidak ditemukan. Sungguh **DUKA** yang mendalam!" Langkah kaki Bai Lian menggema di lorong. Ia mendekat, semakin dekat, sampai berdiri tepat di hadapan Kasim Li. "Katakan padaku, Kasim Li. Siapa yang mendorongku ke jurang itu?" tanyanya lembut, namun matanya memancarkan kilatan ***PETIR***. Kasim Li menggigil. "Saya… saya tidak tahu, Nona. Itu kecelakaan." Bai Lian mengulurkan tangannya yang pucat, menyentuh pipi Kasim Li. Sentuhan itu dingin, sedingin es. "Kecelakaan? Atau ***RENCANA***? Kau tahu, Kasim Li. Kau melihatnya. Kau melihat adikku, Bai Zhi, menyeringai puas saat aku terjatuh." Kasim Li terisak. Air mata mengalir di wajahnya yang keriput. "Nona… demi langit, saya bersumpah…" Bai Lian memotong ucapannya. "Sumpah? Sumpahmu tidak berarti apa-apa. Dulu, kau bersumpah setia padaku. Sekarang, kau bersumpah setia pada Kaisar dan Bai Zhi. Kau *alat*, Kasim Li. Selalu menjadi alat." Ia menjauh, menatap lorong istana yang semakin gelap. "Aku kembali, Kasim Li. Bukan untuk balas dendam. Tapi untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Tahta. Kekuasaan. Dan keadilan." Bai Lian berbalik, menghilang kembali ke dalam kegelapan. Sebelum ia benar-benar lenyap, ia menoleh sekali lagi. "Kau pikir aku korban, Kasim Li? Padahal, akulah yang menciptakan *semua* ini, dari awal… dan kalian semua, hanya *pion*."
You Might Also Like: Top Takdir Yang Tak Bisa Dihindari

Share on Facebook