## Air Mata di Ujung Pedang Kekasih Hujan jatuh di atas makam, **senyap** seperti doa yang tertahan. Airnya membasahi nisan batu, mengalir perlahan, serupa air mata yang tak pernah usai. Di sanalah ia berdiri, *arwah* Lin Wei, sosok pucat pasi yang dulunya adalah seorang pendekar pedang berhati mulia. Dunia *yang ini* terasa asing sekaligus familiar. Ia mengenali aroma tanah basah, bisikan angin di antara pepohonan bambu, dan hening yang menusuk kalbu. Semuanya sama persis dengan dunia yang ditinggalkannya, namun ada _batas_ tak kasat mata yang memisahkannya dari kehidupan. Lin Wei meninggal dengan pedang tertancap di dadanya. Pengkhianatan. Sebuah kata yang membakar jiwanya dengan *amarah* yang dingin. Namun, dendam bukanlah yang membawanya kembali. Bukan. Ada sesuatu yang lebih penting, sesuatu yang belum sempat ia ucapkan, sebuah kebenaran yang terkubur bersama jasadnya. Bayangan dirinya memanjang di atas makam, menolak pergi meski mentari mulai meredup. Ia terikat. Terikat pada janji, pada cinta, pada kata-kata yang belum terucap. Matanya, dulu sehangat mentari pagi, kini memancarkan kesedihan yang tak terperi. Ia mencari kekasihnya, Xiao Yue. Gadis dengan senyum secerah rembulan, pemilik hatinya yang terluka. Ia ingin mengatakan, meski terlambat, bahwa ia *tidak bersalah*. Bahwa tuduhan pengkhianatan yang ditimpakan padanya adalah dusta belaka. Perjalanan arwah Lin Wei adalah ziarah sunyi. Ia mengikuti jejak kenangan, menyusuri jalan setapak yang dulu mereka lalui bersama. Di setiap tempat, ia menemukan sisa-sisa masa lalu: sehelai pita rambut Xiao Yue di ranting pohon sakura, ukiran nama mereka di batang bambu, dan **gema** tawa yang masih beresonansi di antara pepohonan. Semakin dekat ia dengan Xiao Yue, semakin kuat pula rasa sakitnya. Ia melihat kekasihnya merana, hidup dalam kesunyian dan kepedihan. Xiao Yue menyalahkan dirinya sendiri, percaya bahwa ia telah gagal menyelamatkan Lin Wei. Akhirnya, mereka bertemu. Xiao Yue dapat *merasakannya*. Kehadiran Lin Wei yang dingin menusuk hingga ke tulang sumsum. Ia mendongak, menatap hampa ke arah arwah kekasihnya. "Lin Wei…?" bisiknya lirih, suaranya bergetar. Lin Wei tidak bisa memeluknya, tidak bisa menyentuhnya. Ia hanya bisa menatapnya dengan penuh cinta, mencoba menyampaikan kebenaran melalui tatapan matanya. Ia menunjukkan padanya kenangan-kenangan yang tersembunyi, percakapan rahasia yang ia dengar sebelum kematiannya, bukti-bukti yang mengarah pada pengkhianat yang sebenarnya. Awalnya, Xiao Yue ragu. Tapi kemudian, ia melihat **kebohongan** di balik topeng kesedihan. Ia melihat siapa yang sebenarnya menusuk Lin Wei dari belakang. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, beban berat terangkat dari bahu Lin Wei. Dendamnya menguap, digantikan oleh rasa lega yang mendalam. Ia tidak ingin balas dendam. Ia hanya ingin Xiao Yue tahu bahwa ia *mencintainya*. Ia hanya ingin kedamaian. Di ujung senja, ketika langit memerah keemasan, arwah Lin Wei berbalik. Ia menatap sekali lagi pada Xiao Yue, yang kini berdiri tegak dengan pedang terhunus, siap menuntut keadilan. Ia tersenyum, sebuah senyum yang *mengandung segalanya*: cinta, penyesalan, harapan, dan akhirnya, kedamaian. Lalu, ia menghilang, menyatu dengan angin…
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Mimpi Digigit Cacing
Share on Facebook