Oke, ini dia kisah dracin intens yang kamu minta: **Aku Mencintaimu Bahkan Setelah Dunia Berhenti Mengingat Kita** Malam di Kota Terlarang terasa *panjang* seperti mimpi buruk yang tak berkesudahan. Salju turun dengan kejam, menutupi segalanya dengan lapisan putih yang **mendustakan**. Di tengah badai, berdiri dua sosok. Pangeran Li Wei, dengan jubah kebesarannya yang ternoda darah, dan Mei Lin, wanita yang dicintainya, wanita yang dikutuknya. Cinta mereka, dulu membara seperti api unggun di musim dingin, kini menjadi bara yang hampir padam, tertimbun abu kebencian dan pengkhianatan. "Kau... *kau* yang membunuh ayahku?" tanya Li Wei, suaranya serak, nyaris tenggelam dalam lolongan angin. Mata elangnya menatap Mei Lin, mencari kebohongan, mencari penyesalan. Tapi yang ditemukannya hanya kesedihan yang *teramat* dalam. Mei Lin berdiri tegak, salju menempel di rambutnya yang hitam legam. Asap dupa dari kuil di belakangnya berputar-putar, membawa serta aroma kenangan pahit. Air mata mengalir di pipinya, membeku sebelum menyentuh bibirnya. "Aku... aku tidak punya pilihan, Wei. Mereka... mereka mengancam hidupmu." Pengakuan itu jatuh seperti bom. *Darah* di salju tampak semakin merah, semakin nyata. Ingatan masa lalu menyerbu Li Wei. Malam ketika ayahnya, Kaisar yang dicintainya, tewas diracun. Kecurigaan, pengkhianatan, dendam… semuanya berputar seperti pusaran air yang menghisapnya ke dalam kegelapan. "Janji… kau berjanji padaku di bawah pohon plum saat musim semi datang. Kau berjanji akan selalu melindungiku," desis Li Wei, suaranya bergetar. Di matanya, amarah dan cinta berbaur menjadi koktail mematikan. "Aku melindungimu, Wei! Dengan mengorbankan diriku! Dengan mengkhianati keluargaku!" Mei Lin balas berteriak, suaranya pecah. Dulu, ia adalah putri seorang jenderal pemberontak. Terjebak antara cinta dan loyalitas, ia memilih cinta… tapi dengan harga yang mengerikan. Malam itu, rahasia lama terungkap. Sebuah konspirasi yang melibatkan perebutan kekuasaan, cinta terlarang, dan pengorbanan yang *mengerikan*. Li Wei tahu, jauh di lubuk hatinya, Mei Lin mengatakan yang sebenarnya. Tapi kebenciannya, rasa sakitnya, terlampau besar untuk diredam. "Kau telah merenggut segalanya dariku," kata Li Wei, suaranya tenang, terlalu tenang. Ia mencabut pedangnya. Cahaya bulan memantul di bilah baja yang dingin. "Sekarang… giliranmu yang membayar." Mei Lin memejamkan mata. Ia tidak melawan. Ia telah menerima takdirnya sejak lama. Balas dendam adalah hak Li Wei. Ia hanya berharap, setelah ia pergi, Li Wei akan menemukan kedamaian. Pedang itu menembus jantungnya. Mei Lin jatuh ke salju, darahnya mewarnai putihnya malam menjadi merah. Li Wei menatap tubuhnya, wajahnya tanpa ekspresi. Ia merasa hampa. Balas dendam, ternyata, tidak membawa kepuasan. Hanya kehampaan yang *abadi*. Ia berlutut di samping Mei Lin, meraih tangannya yang dingin. "Aku mencintaimu," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "Bahkan setelah dunia berhenti mengingat kita." Li Wei bangkit, meninggalkan tubuh Mei Lin di tengah salju. Ia berjalan pergi, menuju kegelapan, membawa serta beban cinta dan kebenciannya. Ia telah membalas dendam… dengan cara yang paling *menyakitkan*. Beberapa hari kemudian, ditemukan secarik surat di meja kerja Li Wei. Tulisannya tidak rapi, terburu-buru. Bunyinya: "Racun yang merenggut ayahmu... *sudah ada di dalam dirimu*."
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Bisnis Tanpa Stok

Share on Facebook