## Kau Datang Membawa Cinta, Tapi Aku Datang Membawa Api Kabut menggantung pekat di puncak Gunung Tai, menelan kuil-kuil kuno dan jalan setapak yang berliku. Di tengah kabut itu, *seorang* berdiri. Bai Lianhua, atau begitulah dulu ia dikenal. Sekarang, ia hanya seorang bayangan, terbungkus jubah hitam yang menyembunyikan bekas luka bakar di sekujur tubuhnya. Delapan tahun lalu, api melahap kediamannya, meninggalkan abu dan kenangan pahit. Semua orang percaya ia mati. Tapi Lianhua *hidup*. Dihidupkan oleh dendam dan api yang berkobar di hatinya. Ia memasuki istana dengan langkah ringan, bagai hantu yang menyelinap di antara pilar-pilar marmer. Lorong-lorong sunyi mencerminkan kesunyian hatinya. Di ujung lorong, di ruang takhta yang megah, Kaisar Li Wei berdiri, memandangi lukisan bunga teratai yang tergantung di dinding. "Wei Gege," suara Lianhua lirih, seperti bisikan angin di antara bebatuan. Kaisar berbalik, matanya membelalak. "Lianhua... *mustahil*..." Bisikan itu nyaris tak terdengar. "Mustahil? Keajaiban memang sering terjadi, Wei Gege. Terutama keajaiban yang digerakkan oleh dendam," jawab Lianhua, bibirnya melengkung membentuk senyum dingin. Kaisar maju, tangannya terulur seolah ingin menyentuh. "Apa... apa yang terjadi padamu? Siapa yang melakukan ini?" Lianhua tertawa pelan, suara yang membuat bulu kuduk Kaisar meremang. "Siapa? Pertanyaan yang menarik. Bukankah seharusnya *kau* yang tahu, Wei Gege? Bukankah *kau* yang memerintahkan pembakaran itu?" Kaisar menggeleng panik. "Tidak! Aku... aku mencintaimu, Lianhua! Mengapa aku melakukan hal seperti itu?" "Cinta?" Lianhua mendesis. "Cinta adalah alasanmu, Wei Gege. Cinta kepada tahta, cinta kepada kekuasaan, cinta kepada selir barumu yang *lebih berpengaruh*." Ia mendekat, setiap langkahnya bagai dentuman genderang kematian. "Kau tahu, Wei Gege, api itu *menyakitkan*. Tapi yang lebih menyakitkan adalah pengkhianatanmu. Kau mengambil segalanya dariku. Sekarang, aku akan mengambil segalanya darimu." Kaisar mundur, terpojok di dinding. "Apa yang kau inginkan?" Lianhua mengulurkan tangannya, menunjukkan sebuah cincin giok yang dulu milik permaisuri sebelumnya. "Aku datang untuk *mengambil* kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku datang untuk menjadi *permaisuri*. Dan setelah itu..." Ia berhenti, matanya berkilat penuh misteri. "...aku akan membakar kerajaan ini hingga abu." Kaisar menatapnya, *ketakutan* tercetak jelas di wajahnya. Ia menyadari, teror yang selama ini menghantuinya ternyata memiliki nama: Bai Lianhua. Lianhua tersenyum, senyum yang tidak mengandung kehangatan sama sekali. "Kau pikir aku korban, Wei Gege? Kau *salah besar*. Aku yang memegang kendali sejak awal. Apimu hanya membakar kulitku, tapi apiku akan membakar *jiwamu*." Di tengah keheningan yang memekakkan telinga, kata-kata terakhir Lianhua bergema di lorong-lorong istana. "Dan kau tahu, Wei Gege... *akulah api yang kau ciptakan*."
You Might Also Like: Where Is Ryker Webb Now Survived

Share on Facebook