Baiklah, ini dia cerita pendek bergaya Dracin yang Anda minta: **Kau Mencintai Kebenaran, dan Aku Hanya Bayangan dari Kesalahan Masa Lalu** Embun pagi membasahi kelopak bunga Mei di halaman kediamanku. Aromanya, walau harum, tak mampu mengusir dingin yang merayapi tulang. Mataku menerawang ke arah paviliun tempat *dia* dulu sering berlatih kaligrafi. Nama *dia* adalah Lin Wei, sang jaksa agung yang menjunjung tinggi keadilan. Sementara aku, Jiang Lei, hanyalah bayangan. Bayangan dari masa lalu yang kelam, kesalahan yang seharusnya tak pernah terjadi. Lima tahun lalu, Lin Wei dan aku... kami berjanji sehidup semati di bawah pohon persik yang sama. Lima tahun lalu, aku adalah dunianya. Namun, dunia itu runtuh ketika sebuah skandal korupsi mengguncang kekaisaran. Ayahku, seorang menteri yang dituduh menggelapkan dana negara, menjadi pusat perhatian. Lin Wei, dengan segala kebenarannya, harus memilih. Antara cinta dan keadilan. Ia memilih keadilan. Ayahku dieksekusi. Aku dikucilkan. Aku bisa saja berteriak, menuduhnya berkhianat. Aku bisa saja membalas dendam. Tapi aku memilih diam. Bukan karena lemah, melainkan karena **RAHASIA** yang kubawa. Rahasia yang jika terungkap, akan menghancurkan lebih banyak nyawa. Aku tahu Lin Wei tak bersalah. Ia hanya menjalankan tugasnya. Tapi aku juga tahu siapa dalang sebenarnya di balik semua ini. Seorang pangeran yang haus kekuasaan, yang menggunakan ayahku sebagai kambing hitam. Selama lima tahun, aku mengumpulkan bukti. Diam-diam. Seperti air sungai yang mengikis batu karang. Aku tak ingin kekerasan. Aku hanya ingin kebenaran terungkap. Anehnya, setelah kepergian Lin Wei, dia selalu meletakkan bunga Mei putih di gerbang rumahku setiap pagi. **SETIAP** pagi. Seolah meminta maaf. Seolah masih mencintaiku. Suatu malam, aku menerima surat tanpa nama. Di dalamnya, tertera sebuah lokasi – Kuil Bulan Purnama. Aku tahu, inilah saatnya. Di kuil, aku melihatnya. Lin Wei. Ia berdiri di bawah sinar bulan, memegang pedang. Di hadapannya, seorang pria berlutut. Pangeran yang dulu berkuasa. "Kau tahu?" tanya Lin Wei, suaranya dingin. "Kau tahu siapa yang membunuh ayah Jiang Lei?" Pangeran itu gemetar. "A... aku... itu semua karena... karena dia menghalangi jalanku!" Lin Wei mengayunkan pedangnya. *Bukan* pada pangeran. Melainkan pada rantai yang mengikat sebuah peti besar. Peti itu terbuka. Isinya: dokumen-dokumen yang membuktikan kejahatan pangeran. "Semua ini... kau tahu?" aku bertanya, mendekat. Lin Wei menoleh. Matanya berkaca-kaca. "Aku *selalu* tahu, Jiang Lei. Tapi aku membutuhkan bukti yang tak terbantahkan. Aku membutuhkanmu." Ternyata, selama ini, ia diam-diam membantuku. Bunga Mei putih adalah kode rahasia. Surat tanpa nama adalah petunjuk. Ia tahu aku menyimpan rahasia. Ia tahu aku tak bersalah. Ia *mencintaiku*. Pangeran itu dijebloskan ke penjara. Kekuasaannya runtuh. Keadilan akhirnya ditegakkan. Tapi Lin Wei... dia menghilang. Aku kembali ke kediamanku. Di gerbang, tergeletak seuntai kalung giok. Kalung yang dulu pernah kuberikan padanya. Aku meraihnya. Air mata membasahi pipiku. Aku mengerti sekarang. Balas dendam terbaik bukanlah kekerasan. Melainkan cinta dan kebenaran. Takdir berbalik arah, pahit namun indah. *** Aku menatap kalung giok itu, bertanya-tanya, apakah suatu hari nanti kami akan bertemu lagi, di kehidupan selanjutnya?
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Modal Kecil

Share on Facebook