**Ia Membakar Suratku, Tapi Abu-Nya Tak Pernah Hilang** Angin *berbisik* di antara reruntuhan kota satelit, membawa debu dan fragmen ingatan. Aku, Lin Wei, berdiri di atap apartemen yang roboh, jemariku menggenggam erat puntung rokok terakhir. Di bawah sana, lampu neon berkedip-kedip seperti denyut nadi sekarat, menyoroti grafiti-grafiti digital yang menjamur di dinding. Pesan cinta, protes, ramalan kiamat—semuanya bercampur aduk, tak terbaca. Aku mencarinya. Dia, Zhao Yi. Arkeolog digital, katanya. Ia hidup di masa lalu, menggali artefak-artefak data dari era keemasan internet—sebelum *Kiamat Sinyal*. Sebelum *Chat Abadi* berubah jadi kuburan notifikasi. Pertama kali aku menemukannya, bukan di dunia nyata. Melainkan di dalam sebuah forum usang, tempat para nostalgia berkumpul, meratapi hilangnya GIF-GIF kucing dan meme-meme konyol. Ia memposting foto surat. Surat *sungguhan*, dari kertas dan tinta. Ditujukan kepadaku. "Lin Wei," tulisnya, dengan gaya kaligrafi kuno yang membuatku merinding. "Maukah kau menemuiku di bawah pohon *sakura* yang terakhir? Saat mentari terbit terakhir?" Tentu saja, tidak ada pohon sakura. Mentari terbit terakhir sudah lama menjadi legenda. Tapi aku pergi. Aku selalu pergi. Kami berkomunikasi lewat celah waktu. Aku mengiriminya pesan holografis dari masa depanku yang redup, ia membalas dengan rekaman suara yang tersimpan di cakram keras berdebu. Percakapan kami seperti *kode morse* putus-putus, berusaha merangkai kalimat cinta di tengah interferensi galaksi. Ia membakar suratku. Alasannya? "Karena kenangan harus dibakar agar abu-nya bisa menyuburkan harapan." Tapi abu-nya tak pernah hilang. Abu-nya menyebar di aliran data, meresap ke dalam tulang-tulang kota, bergetar di setiap *emoji* kesepian yang aku kirim. Zhao Yi tinggal di laboratorium bawah tanah, di bawah perlindungan Faraday Cage yang rapuh. Ia mencoba memulihkan sinyal, berharap bisa menjangkauku, menarikku kembali ke masa lalu—masa lalu yang mungkin hanya ilusi. Suatu malam, aku menerima pesan darinya. Bukan pesan suara, bukan pesan holografis. Melainkan sebuah berkas video. Di layar, aku melihat diriku sendiri. Bukan aku *sekarang*, melainkan aku di masa lalu. Aku sedang tertawa, menari di bawah pohon sakura yang bermekaran penuh. Di sebelahku, berdiri seorang pria. Zhao Yi. *Muda*. *Bahagia*. Video itu berhenti. Diikuti oleh pesan singkat: "Kita pernah bersama, Lin Wei. Tapi dimensi kita *terpisah*. Kamu adalah aku yang terjebak di masa depan. Aku adalah kamu yang terlupakan di masa lalu. Cinta kita... hanyalah gema dari kehidupan yang tak pernah selesai." Kemudian, layar padam. Sinyal menghilang. Aku duduk di tengah reruntuhan, menggenggam puntung rokok yang sudah lama mati. Langit *berdarah* di kejauhan. Dan aku mengerti. Kami bukan dua orang yang saling mencari. Kami adalah satu jiwa yang terpecah, bergema di dua ujung waktu. Cinta kami bukan takdir, melainkan *paradoks*. Dan sebelum kegelapan menelan segalanya, aku membisikkan satu kalimat terakhir: *“Apakah kamu masih mengingat rasa es krim rasa *sakura*?”*
You Might Also Like: Unleash Power Of Death Tambo

Share on Facebook