**Aku Menatap Bulan, dan Bulan Menatap Balik dengan Mata Serupa Matamu** Lorong istana membentang sunyi, obor-obor di dinding menari dalam keremangan. Embun tipis menggantung di udara, dinginnya menusuk tulang. Aroma dupa cendana yang kuat seolah mencekik, membawa kenangan pahit yang tak kunjung padam. Aku berdiri di ujung lorong, bayanganku memanjang dan meliuk, seolah mencoba melarikan diri dari kenyataan. Dulu, lorong ini dipenuhi tawa dan langkah kaki riang. Sekarang, hanya kesunyian yang menemani. Sepuluh tahun lalu, aku *mati* di sini. Jatuh dari tebing setelah dikhianati. Namun, di sinilah aku berdiri, *kembali*. Dia muncul dari kegelapan, jubah sutra hitamnya menyapu lantai. Wajahnya, dulu penuh kelembutan, kini dihiasi garis-garis keras yang menceritakan kisah pengkhianatan dan kekuasaan. Kaisar Lin, mantan tunanganku. "Kau… *Li Wei*?" bisiknya, suaranya serak. Matanya, persis bulan purnama malam ini, memantulkan keraguan dan ketakutan. "Benar, Kaisar," jawabku, suaraku setenang desiran angin. "Aku kembali untuk mengambil apa yang menjadi hakku." Dia tertawa sinis, suara yang membuat bulu kudukku meremang. "Hakmu? Kau sudah mati, Li Wei! Kau tidak memiliki apa-apa lagi." Aku melangkah mendekat, mengabaikan para pengawal yang bergegas maju. "Kau salah, Kaisar. Aku memiliki **kebenaran**. Kebenaran tentang malam itu. Kebenaran tentang siapa yang mendorongku ke jurang." "Kau menuduhku?" Suaranya meninggi, kemarahannya mulai terpancar. Aku berhenti tepat di hadapannya, menatap matanya dalam-dalam. "Aku *tidak* menuduhmu, Kaisar. Aku hanya mengingatkanmu. Malam itu, di bawah bulan yang sama, kau berjanji akan mencintaiku selamanya. Kau juga berjanji akan melindungi kekaisaranku. Sayangnya, kau melanggar kedua janji itu." "Aku… aku terpaksa! Mereka mengancamku! Tahta dan kekuasaanku dipertaruhkan!" "Lalu kau memilih tahta, Kaisar? Kau memilih kekuasaan daripada diriku?" Dia terdiam, wajahnya pucat pasi. Aku bisa melihat ketakutan yang mendalam di matanya. Ketakutan akan terungkapnya kebenaran. Ketakutan akan kehilangan segalanya. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir aku tidak melihat rencana busukmu dari awal?" bisikku, suaraku hampir tidak terdengar. "Kau berpikir aku hanyalah seorang gadis bodoh yang jatuh cinta padamu. Tapi aku *melihat* segalanya, Kaisar. Aku *melihat* pengkhianatan itu datang." Aku mendekatkan bibirku ke telinganya, berbisik dengan nada yang membuat darahnya membeku. "Justru akulah yang *mendorong* diriku ke jurang. Aku menciptakan kematianku sendiri, agar aku bisa melihat siapa yang benar-benar berkhianat." Mata Kaisar Lin membelalak, penuh ngeri. Ia menatapku seolah melihat hantu. Aku tersenyum tipis, senyuman yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Senyuman yang mengungkapkan kebenaran pahit. "Kau bukan korban, Kaisar Lin. Kau hanyalah *bidak* dalam permainanku." Aku berbalik, meninggalkan Kaisar yang terpaku di tempatnya. Para pengawal tidak berani menghalangiku. Aku berjalan kembali ke kegelapan, meninggalkan aroma dupa cendana dan kesunyian lorong istana. Saat aku melangkah keluar ke halaman, bulan purnama menatapku. Bulan itu menatapku dengan mata serupa mataku. *Dan saat itulah aku menyadari… yang ku kira jurang, ternyata adalah panggungku.*
You Might Also Like: Tafsir Memberi Makan Hiu Dalam Tafsir

Share on Facebook