Baiklah, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Senyum yang Mematikan dengan Lembut': **Senyum yang Mematikan dengan Lembut** Aroma dupa cendana melayang di paviliun teh, bercampur dengan wangi *oolong* yang baru diseduh. Li Wei, gadis muda dengan mata setajam obsidian, menatap danau buatan di taman Istana. Airnya tenang, namun bayangan di permukaannya beriak, seolah menyimpan rahasia yang terlalu pahit untuk diungkap. Sejak kecil, Li Wei merasa ada sesuatu yang hilang, sebuah potongan ingatan yang terus mengganggunya. Ia bermimpi tentang Istana yang megah, pesta dansa yang gemerlap, dan seorang pria dengan senyum **menawan** namun licik. Mimpi itu selalu berakhir dengan pengkhianatan, darah, dan kegelapan abadi. Ia tahu, jauh di lubuk hatinya, mimpi itu bukanlah sekadar khayalan. Itu adalah _potongan-potongan_ kehidupan sebelumnya. Li Wei adalah reinkarnasi dari Putri Lian, pewaris takhta yang *dikhianati* oleh kekasihnya sendiri, Pangeran Rui. Pangeran Rui, dengan ambisi membara, telah meracuni Putri Lian dan merebut takhtanya. Bertahun-tahun berlalu. Li Wei, dengan kecerdasannya yang tajam dan keanggunannya yang memesona, berhasil memasuki Istana sebagai pelayan istimewa. Ia mengamati Pangeran Rui, yang kini menjadi Kaisar, dengan senyum _manis_ namun **mematikan**. Sang Kaisar, tanpa menyadari identitas aslinya, tertarik pada Li Wei. Ia terpikat oleh kemiripannya dengan Putri Lian, terperangkap dalam jaring kenangan dan penyesalan yang ia ciptakan sendiri. Li Wei *tidak* merencanakan pembunuhan. Ia tidak akan mengotori tangannya dengan darah. Balas dendamnya lebih **halus**, lebih _dalam_. Ia menanamkan benih keraguan di hati para pejabat istana, mengungkap korupsi dan kebejatan yang selama ini disembunyikan oleh Kaisar. Ia menggunakan kelemahannya—ambisi dan rasa bersalah—sebagai senjata. Pada hari ulang tahun Kaisar, Li Wei mempersembahkan tarian pedang yang indah. Setiap gerakan anggunnya adalah sindiran, setiap putarannya adalah pengingat. Di akhir tarian, ia mendekat pada Kaisar, membisikkan sebuah nama di telinganya: "Lian." Kaisar terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. Rasa bersalah dan ketakutan melumpuhkannya. Kerajaannya, yang ia bangun di atas pengkhianatan, mulai runtuh. Pejabat istana yang selama ini mendukungnya, berbalik arah. Li Wei, dengan senyum *paling manis*, mengundurkan diri dari Istana. Ia tahu, takdir Kaisar sudah ditentukan. Ia telah kehilangan segalanya, termasuk kekuasaannya dan rasa hormat rakyatnya. Ia memilih untuk **tidak** membunuhnya, tapi menghancurkan jiwanya. Balas dendam yang sempurna. Ia meninggalkan Istana, berjalan menuju matahari terbenam, meninggalkan masa lalu yang kelam di belakangnya. Angin berbisik di telinganya, membawa janji kehidupan baru. Di gerbang kota, ia berhenti dan berbalik, menatap menara Istana yang menjulang tinggi. "Di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi..."
You Might Also Like: Goldie Animal Crossing Pocket Camp 50

Share on Facebook