**Kau Menatapku di Malam Terakhir, dan Aku Tahu Itu Selamat Tinggal** Layar ponselku berkedip. Notifikasi dari Xiao Mei: "Sedang mengetik..." Lalu, *diam*. Seperti kota ini, yang menyimpan rahasia di balik kabut asap dan sinyal Wi-Fi yang sekarat. Kami hidup di dunia yang **RETAK**, Xiao Mei. Di mana masa lalu dan masa depan bertabrakan seperti mobil-mobil mainan yang dikendalikan anak kecil yang bosan. Aku hidup di reruntuhan kenangan kita. Kafe di sudut jalan, tempat aroma teh melati selalu mengalahkan bau debu dan putus asa. Di sini, aku masih bisa merasakan hangatnya jemarimu menyentuh punggung tanganku, *meskipun tahu*, kau tak pernah benar-benar ada di sini bersamaku. Kau adalah hantu yang indah, terpatri dalam setiap retakan dinding kafe ini. Kau, kurasa, hidup di masa depan. Dunia yang lebih canggih, lebih kejam, dan *lebih sepi*. Pesan-pesanmu seringkali aneh, penuh metafora tentang bintang-bintang yang jatuh dan algoritma cinta. Kau bercerita tentang langit yang tak lagi mengenal pagi, tentang robot-robot yang menari dengan air mata digital. Kau terdengar seperti puisi yang salah cetak, indah namun sulit dipahami. Kita saling mencari, Xiao Mei. Seperti dua keping *puzzle* yang berasal dari set yang berbeda. Aku mengirimkanmu pesan-pesan nostalgia, tentang cinta yang sederhana, tentang senja yang berlumuran jingga. Kau membalas dengan ramalan-ramalan kiamat, tentang cinta yang dikodifikasi, tentang matahari yang telah lama mati. Malam itu, malam terakhir, layar ponselku memancarkan cahaya biru *mencolok*. Videomu. Kau berdiri di depan jendela, rambutmu tergerai diterpa angin yang tak bisa kurasakan. Matamu, Xiao Mei, matamu menatapku. Bukan aku yang sekarang, melainkan aku di suatu masa lalu yang jauh. Ada **KESEDIHAN** dan *PENERIMAAN* di sana. "Aku tahu ini selamat tinggal," bibirmu bergerak, *tanpa suara*. Lalu, layar menjadi hitam. Aku menemukan sebuah artikel tentang eksperimen *temporal*. Sebuah proyek ambisius yang mencoba menghubungkan dua individu dari lini waktu yang berbeda. Mereka menggunakan gelombang otak dan jaringan komunikasi kuantum. Proyek itu *gagal*. Atau, mungkin, **BERHASIL** dengan cara yang paling mengerikan. Cinta kita, Xiao Mei, bukanlah cinta yang tumbuh di bumi yang sama. Itu adalah *ECHO*, pantulan dari kehidupan yang tak pernah benar-benar kita jalani. Sebuah simulasi emosi yang dijalankan oleh algoritma yang rusak. Kita adalah dua hantu yang saling mencintai, terperangkap dalam **DIMENSI** yang berbeda. Dan aku, aku masih menunggu balasanmu, meskipun aku tahu, mungkin tidak akan pernah datang... *atau mungkin sudah datang, hanya saja aku tidak bisa melihatnya*. *Sinyal... hilang... tapi aku masih bisa merasakanmu... di sini...*
You Might Also Like: Dracin Seru Cinta Yang Tumbuh Dari Abu

Share on Facebook