Baiklah, ini dia cerita pendek bergaya Dracin yang kamu minta, dengan sentuhan lirih dan penuh penyesalan: **Ciuman di Tangan, Genggaman di Hati** Lampu-lampu istana memudar, kalah oleh keperakan rembulan yang menusuk dingin malam. Dari balik tirai bambu, aku mengamati pemandangan itu: *Yang Mulia* mencium tangan selir barunya, Mei Lan. Senyumnya tulus, matanya berbinar. Pemandangan yang seharusnya membuat hatiku hancur berkeping-keping. Namun, tidak. Tidak lagi. Dulu, ya, dulu aku mungkin akan meraung, merobek gaunku, menjambak rambutku. Tapi sekarang, aku hanya diam. Diam bukan karena aku lemah, *tidak sama sekali*. Diamku adalah sebuah perisai, sebuah tembok tinggi yang melindungi **RAHASIA** yang lebih besar dari sekadar patah hati. Namaku Lian Hua. Aku adalah Permaisuri di istana ini. Di mata semua orang, aku adalah wanita paling beruntung. Tapi kenyataannya? Aku hanyalah *bayangan*. Bayangan dari janji yang pernah terucap, bayangan dari cinta yang telah lama mati. Setiap malam, aku mendengar suara guqin dari taman belakang. Melodinya **lirih, pilu**, seperti ratapan jiwa yang tersesat. Aku tahu siapa yang memainkannya: Kasim Li, satu-satunya orang yang tahu *semuanya*. Dia tahu tentang perjanjian rahasia antara aku dan mendiang Kaisar sebelumnya, perjanjian yang mengharuskan aku untuk menikahi Yang Mulia, putra mahkota yang bahkan belum kucintai. Aku juga tahu tentang *surat wasiat* yang disembunyikan mendiang Kaisar. Surat wasiat yang menyebutkan bahwa takhta sebenarnya bukan milik Yang Mulia, melainkan milik… *Seseorang yang memiliki tanda lahir berbentuk bunga teratai di punggungnya*. Yang Mulia, dengan segala kesempurnaannya, tidak memiliki tanda itu. Mei Lan, dengan kecantikannya yang memukau, juga tidak. Hanya ada satu orang yang memiliki tanda lahir itu: *Anak angkatku, Xiao Feng*. Aku mengangkat Xiao Feng sebagai anakku sendiri, bukan hanya karena rasa iba, tapi juga karena aku tahu **KEBENARAN**. Aku tahu bahwa ia adalah pewaris sah takhta. Selama bertahun-tahun, aku menyembunyikan Xiao Feng dari dunia luar. Aku melindunginya dari intrik istana, dari ambisi Yang Mulia. Aku melatihnya dalam seni bela diri, dalam strategi perang, mempersiapkannya untuk hari ketika ia akan mengambil kembali haknya. Aku mencium tangan Yang Mulia, menuruti semua perintahnya. Aku membiarkan Mei Lan merebut perhatiannya. Aku membiarkan semua orang mengira aku lemah dan tak berdaya. Tapi di dalam hatiku, aku menggenggam Xiao Feng. Aku menggenggam masa depannya. Aku menggenggam harapan akan keadilan. Malam ini, bulan purnama. Aku berdiri di balkon kamarku, menatap ke arah taman belakang. Suara guqin Kasim Li semakin *nyaring, menusuk*. Aku tahu, waktunya sudah dekat. Besok, Xiao Feng akan berulang tahun ke-18. Besok, ia akan menunjukkan tanda lahirnya kepada seluruh istana. Besok, takdir akan berbalik arah. Tidak ada kekerasan. Tidak ada pertumpahan darah. Hanya **KEBENARAN** yang akan terungkap. Hanya takdir yang akan menempatkan segalanya pada tempatnya. Yang Mulia mungkin mencium tangan Mei Lan, tapi ia tidak tahu bahwa selama ini, aku… …memainkan *simfoni* kematiannya.
You Might Also Like: 188 Longines Dolcevita 235Mm L55125707

Share on Facebook