**Kenangan yang Menolak Mati di Tengah Bara** Aula Emas istana bergemerlapan, memantulkan cahaya ribuan lilin pada lantai marmer yang licin. Aroma dupa cendana bercampur dengan bau keringat ketakutan. Di balik tirai sutra yang menjuntai anggun, BISIKAN pengkhianatan berdesir seperti ular. Kaisar, Li Wei, duduk di singgasana naga, matanya tajam menelisik setiap gerak-gerik para pejabatnya. Di sampingnya berdiri Permaisuri Xiao, anggun namun sedingin es. Li Wei dan Xiao, *terikat* sejak kecil, dijodohkan demi memperkuat kekaisaran. Cinta mereka, awalnya polos dan penuh tawa di taman tersembunyi, kini berubah menjadi medan pertempuran. Setiap janji adalah pedang, setiap sentuhan adalah perhitungan. Li Wei membutuhkan Xiao untuk menjaga stabilitas takhta, sementara Xiao menginginkan kekuasaan *sejati*, bukan hanya gelar semata. "Permaisuri," Li Wei berbisik, suaranya rendah dan mengancam, "kau terlalu sering berkumpul dengan Jenderal Zhang." Xiao tersenyum tipis. "Jenderal Zhang adalah pendukung setia kekaisaran, Yang Mulia. Seperti halnya saya." Kalimat itu seperti belati yang terhunus pelan. Intrik merajalela. Fitnah disebar, aliansi dibentuk dan dihancurkan dalam semalam. Li Wei tahu ada pengkhianat di antara mereka, tetapi tidak bisa memastikan siapa. Ia mencurigai Xiao, tetapi hatinya *enggan* mempercayai bahwa wanita yang dicintainya akan menusuknya dari belakang. Namun, Xiao memiliki rencana sendiri. Selama bertahun-tahun, ia telah dengan sabar membangun kekuatan. Ia mengamati, belajar, dan menunggu. Ia melihat kekejaman Li Wei, kehausannya akan kekuasaan, dan ketidakpeduliannya terhadap rakyat. Ia menyadari bahwa cinta yang pernah mereka bagi telah lama mati, tercekik oleh ambisi. Malam itu, di tengah badai yang mengamuk, Xiao melancarkan serangan. Pasukan Jenderal Zhang mengepung istana. Li Wei terkejut, dikhianati oleh orang yang paling ia percayai. Saat Xiao menghadapinya di Aula Emas yang kini dipenuhi darah, ia menatapnya dengan tatapan yang tidak lagi mengenal cinta. "Kau pikir kau bisa mengendalikanku, Li Wei?" Xiao berkata, suaranya dingin seperti es. "Kau salah. Aku bukan boneka yang bisa kau mainkan. Aku adalah PERMAISURI dan aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku." Li Wei meraung, mencoba menyerang Xiao, tetapi terhenti oleh pedang yang ditodongkan Jenderal Zhang. Ia kalah, bukan hanya dalam pertempuran, tetapi juga dalam permainan takhta yang rumit ini. Xiao memerintahkan agar Li Wei dipenjara di menara tertinggi. Ia berlutut di depan singgasana naga yang kini menjadi miliknya, wajahnya tanpa ekspresi. Balas dendamnya telah terlaksana, *elegan, dingin, dan mematikan*. Kemudian, sambil menatap ke arah hujan yang tak henti-hentinya mengguyur istana, ia membisikkan satu kalimat: *Dan darah akan membasahi benih kekacauan.*
You Might Also Like: Drama Abiss Kau Pergi Bersama Waktu

Share on Facebook