Baiklah, mari kita mulai: **Air Mata yang Menjadi Penghapus Takhta** Di kota yang dilalap neon dan kesunyian digital, hiduplah Lin, seorang *codex* masa depan. Tangannya lihai menari di atas hologram, meretas algoritma cinta yang usang. Ia mencari... *sesuatu*. Sesuatu yang lebih dari sekadar angka dan statistik kencan. Di sisi lain dimensi, di sebuah desa yang dihiasi kabut dan kenangan pahit teh, ada Xiao. Ia adalah arsitek kenangan, merajut kembali momen-momen yang terburai dari benang waktu. Ia menyimpan surat-surat usang, aroma lavender kering, dan harapan yang tertinggal di balik senja yang tak pernah tuntas. Mereka saling mencari. Lin, lewat _glitch_ dalam matriks, melihat bayangan Xiao di layar ponselnya yang retak. Xiao, lewat mimpi-mimpi yang dikirimkan angin musim gugur, mendengar bisikan nama Lin di antara gemerisik dedaunan. "Siapa kau?" bisik Lin ke layar, jarinya gemetar. Notifikasi 'sedang mengetik' muncul, lalu hilang. _Seperti jantung yang berhenti berdetak._ "Aku... Aku adalah gema dari apa yang mungkin terjadi," balas Xiao, suaranya serak seperti kertas yang terbakar. Di tangannya, sebuah *jepit rambut naga* tampak bersinar redup. Cinta mereka tumbuh, aneh dan tak lazim. Pertemuan virtual yang terasa nyata, kerinduan yang menjelma menjadi kode biner, dan air mata yang jatuh di kedua sisi waktu. Lin mengirimkan puisi-puisi hologram, Xiao membalas dengan lukisan yang beraroma tanah dan hujan. Namun, ada sesuatu yang mengganjal. Kebenaran itu tersembunyi di balik kabut dimensi. Kebenaran yang **MENYAKITKAN.** Suatu malam, Lin berhasil memecahkan kode terakhir. Di balik rangkaian algoritma rumit, ia menemukan arsip kuno tentang seorang kaisar yang jatuh cinta pada seorang peramal dari masa depan. Kaisar itu adalah... Xiao. Peramal itu adalah... dirinya. Mereka terperangkap dalam siklus abadi. Cinta mereka, sebuah *kesalahan* dalam timeline, dihukum untuk terus berulang, tanpa akhir yang bahagia. Setiap air mata yang jatuh adalah tetes demi tetes yang menghapus takhta, kerajaan, dan **INGATAN** mereka. Xiao, mendengar berita itu lewat bisikan angin, hanya bisa terdiam. Jepit rambut naga itu jatuh ke tanah, memantulkan cahaya rembulan yang pucat. Ia tahu, Lin juga tahu. Cinta mereka bukanlah takdir, melainkan... *gema*. Eko dari sebuah kehidupan yang tak pernah selesai, sebuah kesalahan waktu yang terus berdenyut, sebuah tragedi digital yang abadi. Dan sebelum layar itu padam, sebelum dunia benar-benar gelap, Lin mengirimkan pesan terakhir: "Mungkin, di kehidupan selanjutnya, kita hanyalah debu bintang yang bertabrakan..."
You Might Also Like: Chrissy Metz On This Is Us Star Who

Share on Facebook