**Kau Menatapku di Atas Altar, dan Aku Tahu Ini Cinta Terakhir** Hujan mengetuk jendela apartemenku, iramanya sinkron dengan denting notifikasi yang tak henti-hentinya. Pesan-pesan grup, undangan acara, promo *online shop*… tapi tak satupun darimu. ***Tak satupun.*** Dulu, setiap notifikasi darimu adalah melodi. Sekarang, hanya gema kenangan yang menyakitkan. Aroma kopi yang kubuat di pagi hari, dulu selalu kupersembahkan untukmu, kini hanya menemani kesunyian. Secangkir pahit untuk hati yang retak. Aku ingat pertama kali melihatmu. Di sebuah kafe di sudut kota, kau sedang fokus pada layar ponselmu, bibirmu tersenyum tipis. Aku terpaku. Lalu, mata kita bertemu. *_Kilatan_*. Sebuah semesta baru lahir saat itu juga. Kita membangun dunia kita sendiri di antara percakapan larut malam, emoji konyol, dan *screenshot* lucu. Kita berbagi mimpi, harapan, dan ketakutan yang tersembunyi. Dulu. Lalu, semua berubah. Kau menjauh. Perlahan, tapi pasti. Kata-katamu menjadi singkat, senyummu hambar, dan notifikasimu… hilang. Seperti tetesan air hujan yang menguap di aspal panas. Aku mencoba bertanya, mencoba memahami. Tapi kau membentengi diri dengan alasan klise: sibuk, banyak pekerjaan, *“bukan kamu, tapi aku”*. Aku tahu, ada sesuatu yang kau sembunyikan. Rahasia yang perlahan membunuhku. Sisa chat yang tak terkirim menumpuk di *draft*. Kata-kata yang kurangkai dengan susah payah, ungkapan cinta yang tulus, semua terhempas oleh kebisuanmu. Aku merasa seperti hantu di hidupmu, bayangan yang berusaha meraih matahari. Lalu, undangan itu datang. Pernikahanmu. Kau menatapku di atas altar. Mata kita bertemu lagi. Tapi kali ini, tak ada kilatan. Hanya kekosongan. Sebuah jurang tanpa dasar. Aku tahu, saat itu, ini adalah cinta terakhir. Bukan karena kita bahagia selamanya, tapi karena inilah akhir dari segalanya. *Mengapa?* Pertanyaan itu terus berputar di benakku. Apa salahku? Apa yang kurang? Aku mencari jawabannya. Menggali masa lalu kita, menelusuri jejak digitalmu. Dan akhirnya, aku menemukannya. Sebuah foto. Kau dan wanita lain. Berpegangan tangan, tersenyum bahagia. Sebuah pesan singkat yang terhapus, tapi berhasil kurestorasi: *“Aku mencintaimu lebih dari dia.”* Hatiku hancur berkeping-keping. Kebohongan. Pengkhianatan. Rasa sakit yang tak tertahankan. Tapi di tengah keputusasaan, muncul sebuah kekuatan baru. Sebuah tekad untuk bangkit. Untuk melanjutkan hidup. Untuk membalas dendam… *dengan caraku sendiri*. Di hari pernikahanmu, aku mengirimkan pesan terakhir. Bukan makian, bukan air mata. Hanya sebuah foto. Foto kita berdua, tersenyum bahagia di kafe itu. Di bawahnya, kutulis: *“Selamat berbahagia. Semoga kau menemukan apa yang kau cari. Tapi ketahuilah, kau kehilangan sesuatu yang tak akan pernah kau temukan lagi. Kebahagiaan yang tulus.”* Aku mematikan ponselku. Menghapus semua kenangan tentangmu. Menatap hujan yang kini berhenti. Aku tersenyum. Senyum terakhir untukmu. Senyum yang mengatakan: Aku bebas. Aku bahagia. Aku *menerimamu* sebagai bagian dari masa lalu, dan sekarang aku *melangkah menjauh*. Aku pergi. Tanpa kata. ***Aku menunggumu di dalam mimpi, dan aku akan melupakanmu selamanya.***
You Might Also Like: 147 Tips Tabir Surya Mineral Lokal

Share on Facebook