Cerpen: Aku Mencintaimu Di Setiap Dunia, Dan Selalu Berakhir Sendirian
Serpihan salju menari-nari di pelataran kuil yang sunyi. Di bawah lampion merah yang meredup, bayangan kami memanjang, berbaur, lalu terpisah oleh takdir yang kejam. Tanganku gemetar, bukan karena dinginnya musim gugur, melainkan karena ketakutan yang mencengkeram hati.
"Lin Wei," bisikku, suara serak tercekat di tenggorokan. "Jangan pergi."
Mata Lin Wei, sebiru danau di musim semi, memandangku dengan kesedihan yang tak terperi. "Ini sudah ditakdirkan, Xiao Zhan. Kita... kita tidak ditakdirkan bersama."
Kata-kata itu bagai belati yang menusuk jantungku. Ditakdirkan? Lalu, apa arti semua janji yang terucap di bawah pohon sakura yang bermekaran? Apa arti tatapan penuh cinta yang kau curi saat aku melukis senja di kanvas? Apa arti semua malam yang kita habiskan, berbagi mimpi di bawah rembulan yang sama?
"Dulu," aku berkeras, suaraku meninggi, "Dulu kau berjanji, Wei. Kau berjanji akan menemaniku sampai akhir hayat, di dunia mana pun!"
Lin Wei terisak, air mata membekukan di pipinya yang pucat. "Aku… aku menyesal. Kaisar memaksaku. Aku harus menikahi Pangeran Ketiga."
Pangeran Ketiga. Lelaki kejam dan haus kekuasaan yang selalu menginginkan apa yang kumiliki. Dulu, itu adalah lukisanku. Sekarang, itu adalah Lin Wei.
"Kau lebih memilih takhta daripada cintaku?" tanyaku, kepedihan memenuhi setiap sel tubuhku.
Dia menggeleng lemah, tapi tangannya tidak terulur untuk meraihku. Di matanya, aku melihat bukan hanya penyesalan, tapi juga… ketakutan. Ketakutan akan Kaisar, ketakutan akan Pangeran Ketiga, ketakutan akan hidup tanpa kebebasan.
"Aku mencintaimu, Xiao Zhan," ucapnya lirih, hampir tidak terdengar. "Aku mencintaimu di setiap dunia yang mungkin, namun di dunia ini… aku harus berpisah."
Lalu dia pergi, berjalan menjauh di antara salju yang turun semakin deras. Aku berdiri terpaku, membeku di tempatku berdiri, membiarkan salju menguburku hidup-hidup. KEHILANGAN itu terlalu besar, terlalu pahit untuk ditelan.
Bertahun-tahun berlalu. Pangeran Ketiga naik takhta menjadi Kaisar yang tirani. Lin Wei menjadi Permaisuri, hidup dalam kemewahan namun hatinya hancur berkeping-keping. Aku, seorang pelukis yang patah hati, menjadi Penasihat Kaisar, mengabdikan diri untuk melayaninya.
Namun, di balik senyum palsu dan kesetiaanku yang dibuat-buat, aku merencanakan balas dendam. Bukan dengan pedang atau sihir, melainkan dengan kesabaran dan intrik. Aku menabur benih keraguan di istana, membisikkan kebenaran yang tersembunyi, menari di antara garis-garis kekuasaan yang bergejolak.
Aku tidak membunuh Kaisar. Aku hanya menyingkap kebenaran tentang kelahirannya, sebuah rahasia yang mengguncang fondasi takhtanya. Rakyat marah, istana bergejolak, dan Pangeran Ketiga diturunkan dari takhtanya, dicampakkan dan dilupakan.
Lin Wei, kini seorang janda Kaisar yang kehilangan segalanya, menemuiku di taman rahasia. Matanya tidak lagi sebiru danau, melainkan abu-abu seperti langit yang mendung.
"Kau… kau melakukan ini?" tanyanya, suaranya nyaris tak berdaya.
Aku tersenyum tipis, tidak menyesal sedikit pun. "Aku hanya menanam apa yang kau tabur, Wei. Takdir selalu menemukan caranya untuk menyeimbangkan neraca."
Dan dia paham. Di matanya, aku melihat pengakuan, penyesalan, dan… mungkin, secercah cinta yang tak pernah padam.
"Aku mencintaimu," bisikku, sekali lagi, "Tapi keadilan harus ditegakkan, bahkan jika itu berarti aku akan tetap sendirian."
Akankah dia menemukan kedamaian di dunia selanjutnya, atau akankah takdir mempertemukan kami kembali, dalam siklus cinta dan dendam yang tak berkesudahan?
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Lokal