Judul: Lentera di Tengah Hujan yang Menggigil Hujan mengguyur Kota Lama, membasahi atap-atap genting dan jalanan batu yang licin. Suara jatuhnya air menciptakan melodi sendu, senada dengan melodi pedih yang berputar di kepala Lin Yue. Ia berdiri di bawah *emperan* toko teh, bayangannya yang tinggi kurus patah oleh genangan air di bawah kakinya. Sudah sepuluh tahun. Sepuluh tahun sejak pengkhianatan itu, sepuluh tahun sejak tatapan terakhir Han Feng, tatapan yang dingin dan *berdusta*. Dulu, tatapan Han Feng adalah matahari bagi Lin Yue. Matahari yang menghangatkan jiwanya yang beku, menerangi setiap sudut gelap dalam hatinya. Mereka berdua berjanji di bawah pohon sakura yang mekar di musim semi, janji sehidup semati. Tapi musim semi itu hanya ilusi. Musim gugur datang terlalu cepat, menjatuhkan semua kelopak bunga, meninggalkan ranting-ranting yang telanjang dan *menusuk*. Lin Yue menyesap teh pahit di tangannya, mencoba menghangatkan diri. Aroma melati yang seharusnya menenangkan justru mengingatkannya pada parfum Han Feng, parfum yang selalu ia kenakan saat mereka berkencan di kedai teh kecil ini. Dulu, mereka akan tertawa, berbagi mimpi, dan saling mencuri ciuman di bawah *cahaya lentera* yang temaram. Sekarang, lentera-lentera itu hanya menerangi bayangannya sendiri, bayangan yang semakin hari semakin menua. Di seberang jalan, ia melihatnya. Han Feng. Berdiri di bawah *payung merah*, tubuhnya tertutup jubah sutra berwarna gelap. Wajahnya masih setampan dulu, hanya guratan di sekitar mata yang menunjukkan bahwa waktu telah berlalu. Mereka saling bertatapan, jarak yang memisahkan mereka terasa seperti *jurang yang dalam*, lebih tajam dari pedang. Tatapan Han Feng kali ini tidak lagi dingin, tapi penuh dengan penyesalan… ataukah hanya ilusi? Lin Yue memalingkan wajahnya. Penyesalan Han Feng sudah terlambat. Luka yang ia torehkan terlalu dalam, terlalu sakit untuk disembuhkan. Ia ingat malam itu, malam di mana ia mengetahui kebenaran. Han Feng bersekongkol dengan keluarga Wu untuk menghancurkan bisnis keluarganya, bisnis yang telah dibangun dengan susah payah oleh kakek buyutnya. Demi kekuasaan dan ambisi *buta*. Selama sepuluh tahun ini, Lin Yue hidup dalam bayang-bayang, bekerja keras, mengumpulkan kekuatan. Ia mempelajari setiap kelemahan Han Feng, setiap celah dalam pertahanannya. Ia menanti waktu yang tepat untuk membalas dendam. Balas dendam yang dingin, terencana, dan *mematikan*. Hujan semakin deras. Lin Yue menaruh cangkir tehnya, menarik napas dalam-dalam, dan melangkah keluar. Ia berjalan menuju Han Feng, tanpa ragu, tanpa gentar. Di bawah payung merah itu, mereka berdiri berhadapan, dua jiwa yang dulunya saling mencintai, kini menjadi musuh abadi. "Sudah lama, Han Feng," kata Lin Yue, suaranya pelan namun menusuk. Han Feng membuka mulutnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi Lin Yue mengangkat tangannya. "Simpan kata-katamu. Semua sudah terlambat. Aku tahu apa yang kau lakukan sepuluh tahun yang lalu. Dan sekarang, saatnya kau membayar." Lin Yue tersenyum tipis, senyum yang *mengerikan*. Ia mengeluarkan sebuah *pisau kecil* dari balik jubahnya. Pisau itu terlihat sederhana, namun bilahnya sangat tajam. "Kau selalu mengagumi keindahan bunga sakura, bukan, Han Feng? Aku akan memberimu sebuah pertunjukan bunga sakura yang *sesungguhnya*..." Di bawah derasnya hujan, Lin Yue menusukkan pisau itu ke jantung Han Feng. Han Feng jatuh berlutut, darah membasahi jubah sutranya. Ia menatap Lin Yue dengan mata yang penuh dengan *keheranan* dan *ketakutan*. Lin Yue berbisik di telinganya, "Kau tidak pernah tahu, bukan? Bahwa pisau ini… adalah milik ***ibumu***."
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Bisnis Tanpa

Share on Facebook