**Hujan di Malam Patah Hati** Hujan menggigil malam itu, sama dinginnya dengan jari-jariku yang menyentuh layar ponsel. Layar itu menampilkan riwayat obrolan kami berdua. Ratusan pesan, ribuan kata, janji-janji yang kini terasa seperti pecahan kaca di tenggorokan. *Ia membaca chat lama, tapi tak pernah balas.* Foto profilnya masih sama: senyum cerah di bawah taburan bintang. Dulu, bintang itu bersinar hanya untukku. Sekarang? Aku hanya melihatnya dari kejauhan, seperti mengagumi lukisan mahal di museum – indah, tapi tak tersentuh. Namanya, Riana, masih tersimpan rapi di daftar kontak. Aku enggan menghapusnya, seolah menghapus namanya sama dengan menghapus sebagian dari diriku. Padahal, ia yang telah menghapusku dari hatinya, lima tahun lalu. Pengkhianatan itu terasa seperti tusukan belati yang terus berputar di ulu hati. Aku ingat malam itu. Aroma melati menguar di taman kota, sama seperti parfum yang selalu ia pakai. Aku memergokinya berciuman dengan pria lain. Di bawah rembulan yang pucat, cintaku hancur berkeping-keping. Setelah itu, kami berpisah. Ia pergi ke kota lain, mengejar karir impiannya. Aku tinggal, memunguti serpihan hati yang berserakan. Aku mencoba melanjutkan hidup, tapi bayangan Riana selalu menghantuiku. Bayangan yang patah, sama seperti ranting pohon yang diterjang badai. Malam ini, aku kembali membaca obrolan kami. Setiap kalimat, setiap emoji, terasa seperti cambuk yang menyayat kulit. Ia dulu memanggilku "matahari," "penyemangat," "rumah." Sekarang, aku hanyalah *kenangan* yang berdebu di benaknya. Cahaya lentera di balkon apartemenku nyaris padam, sama seperti harapan yang kian menipis. Aku menggenggam erat ponsel, meremasnya hingga buku-buku jariku memutih. Emosi bercampur aduk: rindu, benci, sakit hati, dan… dendam. Selama lima tahun, aku memendam dendam ini dalam-dalam. Aku belajar, bekerja keras, dan bangkit. Aku merencanakan semuanya dengan hati-hati, seperti seorang arsitek membangun sebuah istana. Istana yang megah, namun dibangun di atas pondasi **KEBOHONGAN**. Besok adalah hari *itu*. Hari di mana Riana akan kembali. Hari di mana aku akan membalas semua sakit yang telah ia torehkan. Aku akan membuatnya merasakan apa yang kurasakan selama ini. Aku tersenyum sinis. Hujan semakin deras. Di balik tatapan mataku yang dingin, tersembunyi sebuah rahasia besar yang akan mengubah segalanya. *Siapa sangka, pria yang bersamanya malam itu adalah…*
You Might Also Like: 0895403292432 Produk Skincare No

Share on Facebook