**Bisikan Angin Malam** Hujan menggigil di atas atap Istana Timur, persis seperti kenangan yang mencabik-cabik hatiku. Lima belas tahun. Lima belas tahun aku menanggung beban ini sendirian. Cahaya lentera di tanganku *nyaris padam*, menari-nari seirama dengan gemetar tubuhku. Di hadapanku, Kaisar Li Wei, pria yang dulunya adalah duniaku, berdiri tegak bagai gunung batu. Wajahnya masih setampan dulu, meski kerutan halus di sekitar mata menunjukkan beban pemerintahan dan… penyesalan? Aku tertawa pahit dalam hati. Penyesalan? Ia seharusnya menyesal sejak dulu, saat kata-kata pengkhianatan itu meluncur dari bibirnya, membelah hatiku menjadi dua. “Zhaoyi… mengapa kau memanggilku kemari di tengah malam begini?” Suaranya berat, terdengar lelah. Zhaoyi. Bukan lagi A-Lin seperti dulu, saat kami masih saling mencintai di bawah pohon sakura yang sekarang telah mati. Pohon itu… seperti hubungan kami. Dulu mekar indah, kini hanya tinggal kenangan pahit yang menusuk kalbu. Aku mengangkat lentera, membiarkan cahayanya menyoroti wajahnya. “Kaisar lupa? Ini adalah malam *peringatan*.” Bayangan kami memanjang di dinding, terlihat patah dan terpisah. Seperti hati kami. Aku melihat kilatan terkejut di matanya. Ia ingat. Tentu saja ia ingat. Malam di mana ia memilih takhta daripada cintaku. Malam di mana adiknya, Pangeran Rui, muncul dan…merebut segalanya dariku. “A-Lin…” bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. “A-Lin sudah lama mati, Kaisar. Yang ada hanyalah Zhaoyi, selir yang setia mengabdi pada negara dan… *balas dendam*.” Aku tersenyum, senyum yang tidak sampai ke mata. Hujan semakin deras, seolah alam pun ikut berduka atas tragedi yang akan segera terjadi. Aku mendekat, langkahku tenang namun mematikan. Di balik lengan bajuku, tersembunyi jarum perak berlumur racun. Racun yang kususun bertahun-tahun, racun yang akan mengembalikan keadilan yang telah dirampas dariku. “Tahukah Kaisar, Pangeran Rui bukanlah pihak yang paling bersalah dalam tragedi malam itu,” bisikku, tepat di telinganya. Ia tertegun. “Apa… apa maksudmu?” Aku tersenyum misterius. "Malam itu, racun yang melumpuhkan Permaisuri dan memungkinkan Pangeran Rui merebut takhta... *bukanlah racun biasa*."
You Might Also Like: Philippine Eagle Stock Illustration

Share on Facebook