Oke, ini dia cerita pendek bergaya dracin yang kamu minta: **Malam Guqin dan Senyum Topeng** Cahaya rembulan merayap masuk melalui jendela kamarku, menari-nari di atas lantai kayu yang dingin. Di tanganku, sebuah foto usang. Aku menatapnya lama. Dua orang di sana, tersenyum lebar, *bahagia*. Aku dan dia. Atau, lebih tepatnya, aku dan **dia**. Senyum itu… kini terasa begitu asing. Begitu **palsu**. Aku menatap foto lama itu, dan sadar senyum kita dulu hanyalah topeng. Topeng yang menutupi jurang dalam ketidakpercayaan dan pengkhianatan. Seperti lantunan musik guqin di malam yang sepi, hatiku bergetar lirih, penuh penyesalan. Dulu, aku begitu mencintainya. Mengaguminya. Bahkan, aku rela menyerahkan segalanya. Hingga suatu malam, tanpa sengaja, aku menemukan sebuah surat. Surat yang mengungkapkan segalanya. Pengkhianatan itu begitu **menyakitkan**. Mengoyak-oyak hatiku hingga rasanya tak mungkin lagi menyatu. Aku memilih diam. Bukan karena aku lemah. Bukan karena aku tidak berani. Tapi karena aku menyimpan sebuah rahasia. Rahasia yang jauh lebih besar dari pengkhianatannya. Rahasia yang jika terungkap, akan menghancurkan segalanya. Rahasia tentang… **SIAPA DIRINYA SEBENARNYA**. Waktu berlalu. Aku melihatnya meraih kesuksesan. Melihatnya tertawa dan bahagia di atas penderitaanku. Orang-orang memujanya. Membanggakannya. Dan aku? Aku hanya tersenyum pahit dalam diam. Namun, takdir memang punya caranya sendiri untuk membalas. Perlahan, tapi pasti, kebenaran mulai terkuak. Bisikan-bisikan mulai terdengar. Pertanyaan-pertanyaan mulai diajukan. Dan dia… mulai panik. Awalnya, aku tidak mengerti. Mengapa semua ini terjadi? Mengapa dia yang selama ini selalu dilindungi, kini mulai dihakimi? Hingga suatu hari, aku menemukan sebuah artikel kuno. Artikel yang menceritakan tentang seorang pewaris tahta yang hilang. Seorang pewaris yang identitasnya disembunyikan demi keselamatannya. Dan… namanya. Namanya persis sama dengan nama belakangnya. Saat itulah aku mengerti. Dia… dia adalah pewaris tahta yang selama ini dicari! Rahasia yang selama ini kusimpan rapat-rapat, kini berbalik menghantuinya. Kehidupan palsu yang dibangunnya dengan susah payah, kini terancam runtuh. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya duduk diam dan menyaksikan takdir berbalik arah. Melihatnya kehilangan segalanya. Melihat senyum topeng itu perlahan memudar, digantikan dengan kepanikan dan ketakutan. Ini bukanlah balas dendam yang kejam. Ini hanyalah keadilan yang tertunda. Takdir yang menemukan jalannya sendiri. Pahit, memang. Tapi juga… indah. Di balik topeng itu, dia hanyalah seorang anak kecil yang ketakutan, tak siap memikul tanggung jawab yang begitu besar. Mungkin, ini adalah cara alam semesta untuk mengembalikannya ke jalan yang benar. Aku membuang foto itu ke dalam perapian. Api melahapnya dengan rakus, membakar kenangan-kenangan pahit yang selama ini menghantuiku. Dan kini, aku bertanya-tanya… *Apakah dia tahu, bahwa aku selalu tahu siapa dia sebenarnya?*
You Might Also Like: Unlock Your Destiny Free Daily

Share on Facebook