**Kau Berbohong Tentang Cintamu, Tapi Aku Tetap Percaya Setiap Kali Kau Tersenyum** Kabut menggantung pekat di puncak Gunung Cangshan, menyelimuti Pagoda Tiga Menara dalam kerudung perak yang misterius. Aroma dupa dan tanah basah meresap ke dalam pori-pori, seolah alam itu sendiri menyimpan rahasia yang *enggan* diungkapkan. Di dalam lorong istana kerajaan Dali yang sunyi, langkah kaki *seorang pria* bergema pelan. Bukan langkah seorang pelayan atau kasim, melainkan langkah seorang penguasa yang kembali dari kematian. Dulu, ia dikenal sebagai Pangeran Rui, putra mahkota yang tampan dan penuh harapan. Kini, ia hanyalah bayangan pucat dengan mata yang menyimpan lautan duka dan dendam. Sepuluh tahun berlalu sejak ia dinyatakan tewas dalam pertempuran di perbatasan utara. Sepuluh tahun sejak *dia*, Putri Lian, menikahi adiknya sendiri, Pangeran Xuan, demi menjaga takhta tetap stabil. Ia berhenti di depan pintu ukiran rumit yang memisahkan dirinya dari kamar tidur Putri Lian. Ukiran burung phoenix yang tengah mengepakkan sayap tampak mengejek kesetiaannya. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan pahitnya penghianatan yang menggerogoti hatinya. "Lian?" Suaranya serak, hampir tak terdengar. Pintu terbuka perlahan. Putri Lian berdiri di ambang pintu, mengenakan jubah tidur sutra berwarna bulan. Wajahnya masih secantik dulu, namun ada kerutan halus di sudut matanya, mengisyaratkan beban yang dipikulnya selama bertahun-tahun. "Rui... *Benarkah* itu kau?" bisiknya, tangannya gemetar menyentuh pipinya. Rui menepis tangannya. "Kau *tidak* terkejut. Kau tahu aku masih hidup, bukan?" Lian menunduk, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku... aku terkejut, Rui. Sungguh. Aku pikir kau sudah..." "Mati? Kau berharap aku mati, bukan begitu?" Rui menyeringai sinis. "Agar kau bisa hidup bahagia dengan adikku, di atas takhta yang seharusnya menjadi milikku?" "Itu tidak benar! Aku menikah dengan Xuan demi kerajaan, demi menjaga perdamaian!" Lian membela diri, suaranya meninggi. "Perdamaian? Atau kekuasaan?" Rui melangkah mendekat, tatapannya menusuk. "Kau berbohong tentang cintamu, Lian. Dulu, dan sekarang. Tapi aku bodoh. Aku *tetap percaya* setiap kali kau tersenyum." Lian terisak. "Aku mencintaimu, Rui. Selalu." Rui tertawa hambar. "Omong kosong. Aku melihatnya. Aku melihat caramu menatap Xuan. Ada kekaguman, ada rasa hormat... sesuatu yang tidak pernah kau tunjukkan padaku." "Itu karena kau terlalu buta oleh ambisimu, Rui! Kau selalu memprioritaskan kekuasaan di atas segalanya!" Lian berteriak, suaranya membelah kesunyian malam. Rui terdiam. Lalu, ia tersenyum. Senyum yang mengerikan, senyum yang membuat bulu kuduk Lian merinding. "Kau benar, Lian. Aku *memang* ambisius. Dan kau, sayangku, adalah pion dalam permainanku." Lian menatapnya dengan ngeri. "Apa... apa maksudmu?" "Pertempuran di perbatasan utara? Itu diatur. Aku berpura-pura mati. Dan selama sepuluh tahun ini, aku telah memanipulasi segalanya dari balik layar. Xuan, takhta, bahkan dirimu. *Semuanya* ada dalam kendaliku." Lian mundur selangkah. "Tidak mungkin... Kau tidak mungkin melakukan itu padaku..." Rui mendekat, membisikkan kata-kata terakhir yang mematikan. "Aku melakukan apa pun untuk mendapatkan apa yang aku inginkan, Lian. Bahkan jika itu berarti menghancurkanmu. Kau tahu, bukan? Dulu kau mengira aku adalah korban. Padahal, sayalah yang memainkan peran itu dengan *sempurna*. Aku membuatmu *percaya* bahwa kau lebih berkuasa." Lian menatapnya, matanya penuh ketakutan dan pemahaman. Selama ini, ia telah menjadi wayang dalam drama yang ditulis oleh mantan kekasihnya sendiri. Kekuatan yang selama ini ia banggakan hanyalah ilusi belaka. Kemudian, Rui berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Lian terhuyung-huyung di ambang pintu. Kabut di Gunung Cangshan semakin menebal, menyembunyikan wajah dingin seorang penguasa yang kembali dari kematian. *** *Ternyata, kebenaran yang paling mengerikan adalah bahwa *cinta* hanyalah topeng yang dikenakan oleh *dendam* yang terbalaskan.*
You Might Also Like: Distributor Skincare Reseller Dropship

Share on Facebook