**Janji yang Dibalut Darah dan Air Mata** Hujan kota malam ini melukis jendela apartemenku dengan garis-garis perak yang *sendu*. Aroma kopi robusta, yang biasanya menenangkan, justru terasa pahit di lidah. Seperti kenangan tentang Adrian, yang kini hanya tinggal sisa *chat* yang tak terkirim di ponselku. Kami bertemu di dunia yang absurd: notifikasi. Sebuah komentar iseng di unggahan foto kafe dengan desain minimalis. Lalu, *like* yang berbalas, DM yang semakin intens, hingga akhirnya pertemuan pertama di kafe yang sama. Adrian, dengan mata hazelnya yang teduh dan senyum yang mampu meruntuhkan tembok pertahananku, terasa seperti jawaban atas doa-doa yang kulupa kupanjatkan. Mimpi kami, seperti anak tangga menuju langit, dipenuhi janji-janji yang manis. Kami akan membangun galeri seni, keliling dunia, dan menua bersama di sebuah rumah dengan taman mawar. Janji-janji itu kini hanyalah *gema kosong* dalam ruang hampa. Kehilangan Adrian terasa samar, seperti kabut tipis yang perlahan menyelimuti kota. Dia menghilang tanpa jejak. Ponselnya tak aktif, apartemennya kosong. Keluarga dan teman-temannya pun tak tahu ke mana dia pergi. Polisi menggelengkan kepala, kasusnya ditutup dengan label 'hilang'. Namun, aku *menolak* percaya. Ada yang aneh. Ada misteri yang tersembunyi di balik senyum teduhnya, di balik kata-kata manisnya. Aku menggali. Hari demi hari, aku menyusuri jejak digital yang ditinggalkannya. Membaca ulang *chat* kami, meneliti foto-foto di media sosialnya, mencoba mencari petunjuk yang terlewat. Dan akhirnya, aku menemukannya. Sebuah rahasia yang tersembunyi dalam folder terenkripsi di laptopnya: Adrian adalah seorang *mata-mata*. Ia menyamar sebagai pengusaha muda, padahal ia tengah menjalankan misi berbahaya. Misi yang, tampaknya, membawanya pada *maut*. Dia berjanji akan kembali. Dia bilang, ini hanya sementara. Dia mencintaiku, katanya. Tapi janji adalah *janji*, bukan? Dan janji yang dibalut darah dan air mata selalu terasa lebih pahit. Aku berdiri di tepi jembatan, menatap sungai yang beriak di bawah sana. Ponselku berdering. Nomor tak dikenal. “Halo?” Hening. Lalu, suara berat, asing. “Jangan mencari tahu lagi. Ini demi kebaikanmu.” Aku tersenyum sinis. “Terlambat.” Aku menghapus semua foto Adrian dari ponselku. Semua *chat*. Semua kenangan. Meninggalkan jejak digital terakhir: sebuah *pesan* yang tak akan pernah sampai padanya. Balas dendamku *lembut*, tapi menusuk. Aku akan melupakan Adrian. Aku akan melanjutkan hidupku. Aku akan bahagia. Aku akan menunjukkan padanya, di mana pun dia berada, bahwa aku *kuat*. Bahwa cintanya, meskipun *indah*, tidak lebih kuat dari harga diriku. Aku membuang ponselku ke sungai. Malam ini, hujan terasa lebih dingin dari biasanya. …Dan aku, akhirnya, bebas. *Atau setidaknya, aku ingin percaya begitu.*
You Might Also Like: Cerpen Terbaru Janji Yang Dikhianati Di

Share on Facebook