Cerpen Seru: Kau Menciumku Di Tengah Hujan, Tapi Tak Satu Pun Dari Kita Mau Berhenti
Kau Menciumku di Tengah Hujan, tapi Tak Satu Pun dari Kita Mau Berhenti
Hujan malam itu seperti air mata langit. Jatuh deras, membasahi Kota Terlarang yang megah namun terasa dingin. Di bawah payung sutra ungu, berdiri Li Wei. Dulu, ia adalah putri kesayangan seorang jenderal besar, tunangan pangeran pewaris tahta. Kini, ia hanya seorang SISA. Sisa dari ambisi seorang kaisar, sisa dari cinta yang dikhianati, sisa dari nyawa yang seharusnya sudah direnggut.
Dulu, Li Wei adalah bunga lotus yang mekar di musim semi, penuh tawa dan harapan. Sekarang, ia adalah anggrek hitam yang tumbuh di antara bebatuan terjal, keindahan yang mematikan. Luka masa lalu terukir dalam setiap gerakannya, setiap tatapannya. Ia masih cantik, bahkan LEBIH cantik. Kecantikan yang diperkuat oleh ketabahan, kecantikan yang berbalut dendam.
Pangeran Rui, sosok yang dulu pernah berjanji setia padanya, kini berdiri di hadapannya. Air hujan membasahi jubah brokatnya, membuatnya tampak lebih pucat. "Wei… aku…"
Li Wei mengangkat tangannya, menghentikan ucapannya. Senyum tipis menghiasi bibirnya yang merah. "Tidak perlu, Yang Mulia. Aku tahu. Kekuasaan memang menggoda."
Cinta Pangeran Rui memang kalah oleh kekuasaan. Ia menikahi putri dari klan yang lebih kuat, mengkhianati janjinya demi tahta. Tapi Li Wei tidak menangis. Ia hanya merencanakan. Perencanaan yang membutuhkan kesabaran, kecerdasan, dan yang terpenting, KESENYAPAN.
"Kau menciumku di tengah hujan," ujarnya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam gemuruh petir, "tapi tak satu pun dari kita mau berhenti. Kita tahu, ini bukan cinta. Ini peperangan."
Ciuman itu pahit, asin oleh air mata dan hujan. Ciuman yang dipenuhi dengan dendam dan penyesalan. Namun, ada juga percikan api, sisa-sisa cinta yang dulu pernah membara.
Li Wei tidak berteriak, tidak marah, tidak merengek. Ia belajar. Ia menguasai ilmu bela diri, taktik perang, dan seni diplomasi. Ia menjadi penasihat Kaisar, memanfaatkan posisinya untuk menyusun strategi. Ia membangun aliansi dengan orang-orang yang terlupakan, orang-orang yang sakit hati, orang-orang yang memiliki tujuan yang sama: MEMBALAS DENDAM.
Ia menggunakan kelembutannya sebagai senjata. Ia memanipulasi, menggoda, dan menghancurkan lawannya dengan senyuman manis. Ia adalah racun yang memabukkan, keindahan yang menyesatkan.
Ketika saatnya tiba, Li Wei tidak membunuh Pangeran Rui. Ia hanya memastikan Pangeran Rui kehilangan segalanya. Tahta, kehormatan, bahkan orang-orang yang dicintainya. Ia meninggalkannya dalam kehancuran yang lebih dalam dari yang pernah ia rasakan.
Di akhir segalanya, Li Wei berdiri di balkon istana, menatap kota yang telah ia taklukkan. Hujan telah reda, bintang-bintang bersinar terang di langit malam. Ia menyentuh liontin lotus hitam yang selalu ia kenakan.
"Aku memang hancur," bisiknya pada diri sendiri, "tapi dari kehancuran itu, aku membangun kerajaan untuk diriku sendiri, di mana mahkota itu akhirnya adalah… KEBEBASANKU."
You Might Also Like: Reseller Skincare Fleksibel Kerja Dari