Dracin Populer: Cinta Yang Menyala Di Tengah Kegelapan
Di balik tirai kabut pagi yang menggantung di Lembah Anggrek yang terlupakan, terlukis wajahnya. Yun. Bukan wajah nyata, melainkan goresan tinta di atas sutra yang usang, seindah mimpi yang tak pernah berani kuraih. Setiap garis bibirnya adalah janji yang tak terucap, setiap tatapan matanya adalah samudra rindu yang tak bertepi.
Aku, Ling, terikat pada lukisan ini seperti rembulan pada bumi. Hari-hariku adalah senja yang panjang, menanti fajar yang tak kunjung tiba. Aku mencarinya di antara reruntuhan Paviliun Bulan, di mana melodi seruling bambu terdengar lirih, seolah membisikkan namanya. Yun.
Apakah ia nyata? Pertanyaan itu menggantung di udara seperti embun yang enggan jatuh. Mungkin ia hanya bayangan dari masa lalu, seorang selir yang hilang dalam labirin istana, atau dewi sungai yang menjelma menjadi manusia untuk sesaat. Atau, mungkin, ia hanya ilusi yang diciptakan oleh hatiku yang kesepian.
Malam-malamku dipenuhi mimpi. Di sana, di alam mimpi yang berkilauan seperti serpihan bintang, aku bersamanya. Kami menari di bawah hujan bunga sakura, tertawa di tengah kebun teh yang hijau, dan saling bertukar pandang yang lebih dalam dari lautan. Sentuhannya terasa nyata, hangatnya seperti mentari pagi. Tapi, begitu aku terbangun, semuanya lenyap, meninggalkan hanya kekosongan yang menganga.
Suatu hari, aku menemukan sebuah kotak musik antik di loteng yang berdebu. Saat kubuka, alunan melodi yang familiar mengalun. Melodi yang sama dengan yang kudengar dalam mimpiku. Di dasar kotak, tersembunyi sebuah surat.
"Ling, jika kau menemukan ini, berarti waktunya telah tiba. Aku bukan hanya sekadar lukisan, bukan pula sekadar mimpi. Aku adalah... potongan jiwamu yang hilang, terperangkap dalam dimensi waktu yang berbeda."
Jantungku berdegup kencang. Yun adalah bagian dari diriku! Tapi mengapa terpisah? Mengapa terkurung dalam lukisan?
Surat itu berlanjut: "Dulu, saat kita masih bersama, seorang penyihir jahat mencuri sebagian jiwamu, mengurungnya dalam lukisan ini. Ia takut kekuatan cinta kita akan menghancurkannya. Aku berjanji akan kembali, mencari cara untuk menyatu kembali denganmu."
Pengungkapan ini bagaikan pedang bermata dua. Kebahagiaan karena mengetahui kebenaran, bercampur dengan KEPEDIHAN karena menyadari bahwa kami terpisah oleh dinding waktu dan sihir.
Di akhir surat, tertera sebuah kalimat, ditulis dengan tinta yang nyaris pudar: "Carilah Kunci Purnama, hanya itu yang dapat menyatukan kita kembali."
Kini aku tahu apa yang harus kulakukan. Perjalanan panjang menantiku. Namun, hati ini berdebar kencang. Ada harapan, walau setipis benang sutra, bahwa aku dan Yun akan bersatu kembali.
Namun... apakah cinta sejati benar-benar bisa menembus batas waktu dan dimensi? Apakah Kunci Purnama benar-benar ada?
Bisikan angin membawa kabar dari masa lalu: "Ingatlah janji di bawah pohon bambu..."
You Might Also Like: 46 Contrast Between Table Covers And