Seru Sih Ini! Kau Memilih Tahta, Aku Memilih Luka
Kau Memilih Tahta, Aku Memilih Luka
Aula Emas Istana Phoenix berkilauan, diterangi ribuan lilin. Aroma dupa cendana dan bunga plum memenuhi udara, tak mampu menutupi aura tegang yang menggantung. Para pejabat kerajaan berbaris rapi, wajah-wajah mereka datar dan tanpa ekspresi. Namun, di balik tatapan mereka, tersembunyi intrik dan ambisi yang membara. Tirai sutra merah berbisik, menyembunyikan percakapan rahasia dan rencana pengkhianatan.
Di tengah kemegahan ini, berdiri Putri Lianhua, wajahnya anggun bagai lukisan, namun matanya menyimpan lautan kepedihan. Di sampingnya, Pangeran Rui, tampan dan gagah, kini mengenakan jubah naga berwarna keemasan. HARI INI, dia akan dinobatkan menjadi Kaisar.
Dulu, Lianhua dan Rui adalah sepasang kekasih. Janji setia terucap di bawah pohon sakura yang bermekaran. Mereka berjanji akan memerintah bersama, membawa kedamaian bagi kerajaan. Tapi, kekuasaan mengubah segalanya. Bisikan para penasihat, godaan tahta, dan ambisi pribadi meracuni hati Rui.
"Lianhua, aku mencintaimu," bisiknya suatu malam, tangannya menggenggam erat tangan Lianhua. "Tapi, aku harus memilih. Tahta ini adalah tanggung jawabku, demi rakyat."
Kata-kata itu bagai pedang yang menusuk jantung Lianhua. Cinta Rui adalah permainan takhta, sebuah pengorbanan yang harus dia lakukan demi kekuasaan. Lianhua, dengan segala kelembutan dan kebijaksanaannya, dianggap lemah, tidak pantas mendampingi seorang Kaisar.
Malam penobatan tiba. Lianhua berdiri tegak, menyaksikan Rui naik ke singgasana. Tatapan mereka bertemu, dan Lianhua melihat penyesalan di mata Rui. Tapi, penyesalan itu terlambat. Hatianya telah hancur menjadi kepingan-kepingan es.
Bertahun-tahun berlalu. Rui memerintah dengan tangan besi, membawa kemakmuran bagi kerajaan, tapi kehilangan kebahagiaannya. Bayangan Lianhua selalu menghantuinya. Dia tahu, dia telah membuat kesalahan TERBESAR dalam hidupnya.
Sementara itu, Lianhua menghilang dari pandangan publik. Dia belajar seni bela diri, merangkai racun, dan menyusun rencana. Semua kepedihan dan kekhianatan telah menempa dirinya menjadi sosok yang kuat dan berbahaya. Dia tidak lagi lemah. Dia telah menjadi bayangan dalam istana, menunggu saat yang tepat untuk membalas dendam.
Suatu malam, di tengah perjamuan megah, Rui meminum anggur yang disajikan Lianhua. Senyum tipis terukir di bibir Lianhua saat melihat Rui terhuyung dan jatuh ke lantai. Racun yang dia berikan tidak meninggalkan jejak, tapi mematikan.
"Kau memilih tahta, Rui," bisik Lianhua, suaranya dingin bagai es. "Aku memilih luka. Dan sekarang, luka itu membalas."
Lianhua menatap mayat Rui, lalu berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan istana yang penuh dengan kebingungan dan ketakutan.
Dan saat itu, sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri...
You Might Also Like: Skincare Lokal Untuk Kulit Tropis Bisa