Endingnya Gini! Senyum Yang Membawa Surat Wasiat Terakhir
Hujan kota menari di kaca jendela apartemenku, iramanya senada dengan getar notifikasi yang terus berdatangan. Setiap bunyi "ting!" adalah pengingat. Pengingat tentang dia, tentang Zhen Wei, yang kini hanya serpihan digital dalam galeri ponsel dan jejak asap aroma kopi yang dulu selalu ia buatkan.
Zhen Wei… Namanya dulu melompat-lompat di layar ponselku, diselipkan di antara emoji hati dan meme konyol. Dulu, jemarinya lincah menari di atas keyboard, merangkai janji dan mimpi yang kini terasa seperti sandiwara yang sangat indah.
Kami bertemu secara acak – aplikasi kencan. Klise, aku tahu. Tapi senyumnya, ya, senyumnya di foto profil itu… membuatku lupa segala klise. Senyum yang kini membayangiku, menyisakan rasa pahit yang aneh. Senyum yang membawa surat wasiat terakhir.
Kenangannya tak bisa dihapus. Bukan hanya karena foto-foto yang bertebaran, tapi karena sisa chat yang tak terkirim. Kalimat-kalimat yang setengah jalan terketik, terhenti di tengah jalan, layaknya hubungan kami. Apa yang ingin ia katakan? Apa rahasia yang ia simpan rapat-rapat di balik senyum manis itu?
Kehilangan ini samar. Seperti kabut yang perlahan menyelimuti kota, membuat segalanya tampak buram dan jauh. Aku tahu, secara logika, ia tidak akan kembali. Tetapi ada bagian diriku yang menolak mempercayainya. Ada sesuatu yang belum selesai. Ada simpul yang harus diurai.
Aku menemukan petunjuknya dalam laptop usangnya. File yang diproteksi kata sandi. Butuh waktu berhari-hari untuk memecahkannya. Dan ketika akhirnya terbuka, dunia terasa runtuh. Investasi bodong. Utang menumpuk. Tekanan dari keluarga. Zhen Wei terjerat dalam pusaran yang tak mampu ia kendalikan. Ia bangkrut.
Surat wasiat terakhirnya bukan wasiat dalam arti sebenarnya. Bukan daftar harta warisan, melainkan deretan angka. Kode akses untuk sebuah rekening bank di luar negeri. Sejumlah uang yang cukup untuk membayar semua utangnya… dan memulai hidup baru. Tapi ia memilih jalan lain. Ia memilih aku.
Ia telah menggunakanku. Perasaanku. Ketulusanku. Sebagai pelarian, sebagai penutup luka. Ia tahu, aku akan mencari kebenaran. Ia tahu, aku akan menemukan kode akses itu. Dan ia tahu, aku akan melakukan hal yang benar.
Aku mentransfer uang itu. Bukan untuk keluarganya, bukan untuk dirinya sendiri. Melainkan untuk sebuah badan amal yang membantu orang-orang yang terjerat masalah keuangan. Sebuah kebajikan yang akan mengenang namanya dengan cara yang berbeda.
Balas dendamku lembut. Senyum terakhirku adalah senyum yang tidak akan pernah ia lihat. Keputusanku adalah keputusan yang menutup segalanya tanpa kata. Aku mematikan semua notifikasi. Aku menghapus semua foto. Aku membuang kopi bubuk sisa pemberiannya. Aku memilih untuk melanjutkan hidup, dengan luka yang akan selalu menjadi pengingat.
Dunia ini, ternyata, memang penuh dengan kebohongan yang dibungkus dengan senyuman. Dan kadang, senyum itu adalah... cara mengucapkan selamat tinggal.
You Might Also Like: Agen Skincare Bisnis Rumahan Kota