Cerpen Keren: Di Antara Seribu Lampion, Hanya Satu Yang Membawa Namaku
Di Antara Seribu Lampion, Hanya Satu yang Membawa Namaku
Hembusan angin malam di Festival Lampion Kota Yue begitu dingin, menusuk hingga ke tulang. Mei Hua, gadis penjual teh yang baru menginjak usia delapan belas, menggigil meski sudah mengenakan mantel tebal. Ribuan lampion merah menyala, memenuhi langit-langit malam dengan cahaya yang menari-nari. Namun, matanya terpaku pada satu lampion istimewa, yang tergantung di depan gerbang kediaman Tuan Li. Di lampion itu, terukir namanya, dalam aksara kuno yang aneh.
Setiap kali ia menatap lampion itu, kepalanya berdenyut nyeri. Potongan-potongan mimpi aneh berkelebat di benaknya: taman bunga persik yang luas, gaun sutra berwarna nila, suara kecapi yang merdu, dan… pengkhianatan.
Mei Hua tidak mengerti. Ia hanya seorang penjual teh. Apa hubungannya dengan lampion bertuliskan namanya di kediaman Tuan Li yang kaya raya? Namun, perasaan aneh itu terus menghantuinya.
Suatu malam, ia memberanikan diri mendekati gerbang kediaman Tuan Li. Seorang pelayan tua menatapnya curiga. "Apa maumu, gadis kecil?"
"Saya… hanya ingin melihat lampion itu dari dekat," jawab Mei Hua, suaranya bergetar.
Pelayan itu mendengus. "Lampion itu milik Nyonya Li. Ia sangat menyayanginya. Jangan berani menyentuhnya!"
Nyonya Li. Nama itu bagai sengatan listrik. Di benaknya, muncul bayangan seorang wanita cantik, dengan senyum yang menawan namun menyimpan racun di baliknya. Di kehidupan sebelumnya, Nyonya Li – atau lebih tepatnya, Ling – adalah sahabatnya, kepercayaan hatinya. Namun, Ling telah mengkhianatinya, merebut tunangannya, Jenderal Zhao, dan menjebaknya atas tuduhan palsu. Ia dihukum mati dengan cara yang mengerikan, di depan mata Jenderal Zhao yang tidak berdaya.
Reinkarnasi. Sekarang, ia mengerti. Lampion itu adalah pengingat, peringatan dari masa lalu. Nyonya Li, yang kini hidup sebagai istri Tuan Li, masih menyimpan lampion itu, mungkin sebagai trofi, atau mungkin… penyesalan?
Mei Hua tidak ingin balas dendam dengan kekerasan. Ia tahu, takdir memiliki cara tersendiri untuk menyeimbangkan neraca. Ia hanya ingin memastikan, bahwa masa lalunya tidak akan merenggut kebahagiaan di kehidupan barunya.
Esok harinya, Tuan Li mengunjungi kedai tehnya. Ia tertarik dengan kecantikan dan kecerdasan Mei Hua. Ia menawarkannya pekerjaan sebagai pelayan pribadi di kediamannya. Mei Hua menerima.
Di dalam kediaman Tuan Li, ia melihat Nyonya Li, yang menatapnya dengan tatapan dingin dan mencurigakan. Mei Hua membalas tatapannya dengan senyum manis, senyum yang menyimpan rahasia ribuan tahun.
Waktu berlalu. Mei Hua menjadi kepercayaan Tuan Li. Ia memberikan saran-saran bijak tentang bisnis, membantu mengelola keuangan, dan menjadi pendengar setia keluh kesahnya. Tuan Li semakin menyukainya. Ia bahkan berniat menjadikannya istri kedua.
Nyonya Li sangat marah. Ia tahu, posisinya terancam. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tuan Li telah dibutakan oleh pesona Mei Hua.
Pada malam Festival Lampion berikutnya, Tuan Li mengumumkan niatnya untuk menikahi Mei Hua. Nyonya Li mencoba membujuknya, memohon, bahkan mengancam. Namun, Tuan Li bergeming.
Di bawah langit yang dipenuhi ribuan lampion, Nyonya Li menangis. Ia menyadari, ia telah dikalahkan. Bukan oleh kekuatan sihir, bukan oleh kutukan, melainkan oleh pilihan Tuan Li, yang terpengaruh oleh kebijaksanaan dan kebaikan Mei Hua.
Mei Hua menatap lampion bertuliskan namanya. Ia tersenyum. Kemenangannya bukan terletak pada kematian Nyonya Li, atau penderitaannya. Kemenangannya terletak pada kebebasannya. Ia telah membebaskan dirinya dari rantai masa lalu, dan membuka lembaran baru untuk masa depannya. Ia tidak akan menikah dengan Tuan Li. Ia akan menggunakan kekayaannya dan pengaruhnya untuk membantu orang lain, dan membangun hidup yang berarti.
Ia meninggalkan kediaman Tuan Li di malam itu, meninggalkan Nyonya Li yang hancur dan Tuan Li yang patah hati. Ia berjalan di antara ribuan lampion, bebas.
Di kejauhan, terdengar suara seruling yang merdu, mengalunkan melodi kuno yang menyayat hati. Mei Hua berhenti sejenak, menutup matanya, dan berbisik, "Sampai jumpa… mungkin di kehidupan selanjutnya."
Mungkin, di antara seribu bintang, akan ada satu yang bersinar untuk kita berdua, di kehidupan selanjutnya.
You Might Also Like: Jual Skincare Untuk Ibu Hamil Dan_23