Bayangan Yang Mengintai Di Balik Cermin
Bayangan yang Mengintai di Balik Cermin
Embun pagi menempel di kelopak bunga Peony di taman belakang kediaman keluarga Zhang. Lin Wei, dengan gaun sutra putihnya, berdiri mematung, memandang refleksi dirinya di permukaan kolam. Bayangan itu membalas tatapannya, dingin dan asing.
Lin Wei, di mata dunia, adalah pewaris sempurna Zhang Corp., lemah lembut, anggun, dan penuh kasih. Namun, di balik senyum manis itu, tersembunyi rahasia yang membelenggunya – sebuah kebohongan yang dibangun di atas darah dan pengorbanan orang lain.
Di sisi lain kota, di sebuah gang sempit yang kumuh, hiduplah Han Yu. Ia adalah anak yatim piatu yang gigih, dibesarkan oleh jalanan. Ia memiliki satu tujuan: mencari tahu kebenaran di balik kematian orang tuanya, yang dinyatakan sebagai kecelakaan. Hatinya dipenuhi amarah, tetapi matanya menyimpan keteguhan baja.
Perjumpaan mereka diawali dengan ketidaksengajaan. Han Yu bekerja sebagai pengantar bunga ke kediaman Zhang. Pandangannya bertemu dengan Lin Wei di taman itu. Sesuatu dalam diri Han Yu bergejolak – perasaan aneh yang tak bisa ia jelaskan.
"Anda terlihat familiar," ucap Han Yu, suaranya serak.
Lin Wei tersenyum tipis. "Mungkin kita pernah bertemu dalam mimpi."
Sejak saat itu, Han Yu mulai menginvestigasi keluarga Zhang, menggali masa lalu yang kelam. Setiap langkahnya, ia semakin dekat dengan kebenaran yang mengerikan: kematian orang tuanya bukan kecelakaan. Itu adalah pembunuhan berencana, dan dalangnya adalah… seseorang yang sangat dekat dengan Lin Wei.
Dinamika mereka menjadi rumit. Han Yu jatuh cinta pada Lin Wei, meskipun ia tahu bahwa ia mungkin harus menghancurkannya untuk mendapatkan keadilan. Lin Wei, di sisi lain, merasa tertarik pada Han Yu, pada ketulusan dan keberanian yang tidak pernah ia miliki. Namun, ia terikat oleh kebohongan, terperangkap dalam jaring yang ia sendiri tenun.
Konflik semakin memanas. Han Yu menemukan bukti yang tak terbantahkan. Ia menghadapi Lin Wei. "Ayahmu memerintahkan pembunuhan orang tuaku!"
Lin Wei terkejut. Dunia yang selama ini ia kenal runtuh. Ia menyangkalnya, tetapi di dalam hatinya, ia tahu kebenaran itu. Ayahnya, pria yang ia kagumi, adalah seorang monster.
"Aku... aku tidak tahu," lirih Lin Wei, air mata membasahi pipinya.
Han Yu memeluknya. "Aku tahu. Tapi kau harus memilih. Kebenaran, atau kebohongan?"
Lin Wei memilih kebenaran. Ia bersedia mengorbankan segalanya, bahkan nyawanya sendiri, untuk mengungkap kejahatan ayahnya. Bersama-sama, mereka merencanakan balas dendam.
Puncaknya adalah malam pesta ulang tahun Zhang Wei, kepala keluarga Zhang. Di hadapan para tamu undangan, Lin Wei membongkar semua kejahatan ayahnya. Ia membeberkan bukti-bukti yang telah dikumpulkan Han Yu.
Zhang Wei murka. Ia mencoba membungkam Lin Wei, tetapi terlambat. Polisi datang menangkapnya.
Di saat-saat terakhirnya, Zhang Wei menatap Lin Wei dengan tatapan penuh kebencian. "Kau akan menyesalinya!"
Balas dendam Lin Wei bukanlah dengan teriakan amarah, melainkan dengan ketenangan yang menusuk. Ia hanya tersenyum tipis. "Ini adalah perpisahan."
Zhang Wei dibawa pergi. Lin Wei menatap kepergiannya, air mata mengalir di pipinya. Ia telah kehilangan segalanya: keluarganya, reputasinya, dan masa depannya. Tetapi ia telah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga: kebebasan.
Ia menoleh ke arah Han Yu, tersenyum tipis. "Terima kasih."
Han Yu membalas senyumnya. "Kau telah melakukan hal yang benar."
Lin Wei meninggalkan kediaman Zhang, meninggalkan bayangan masa lalunya di belakang. Ia berjalan menuju masa depan yang tidak pasti, tetapi penuh harapan.
Di balik senyum perpisahannya, tersembunyi rasa penasaran yang mendalam: Apakah keadilan sejati benar-benar telah ditegakkan?
You Might Also Like: Rahasia Face Wash Tanpa Paraben Untuk