## Kau Menciumku di Tengah Hujan, Tapi Tak Satu Pun dari Kita Mau Berhenti Hujan turun seperti tirai air mata, membasahi Shanghai yang gemerlap. Lampu-lampu neon memantul di aspal basah, menciptakan ilusi dunia lain, tempat di mana aku dan *DIA* seharusnya hidup bahagia. Tapi kenyataan selalu lebih kejam dari ilusi. Lima tahun. Lima tahun yang kuhabiskan untuk membencinya, meratapi kebodohanku, dan mengutuk hatiku yang masih berdebar kencang setiap kali mendengar namanya. Lima tahun sejak malam itu, malam di mana dia **menjanjikan** selamanya, di bawah langit Shanghai yang sama, di bawah bintang-bintang yang kini terasa begitu jauh. Dia berdiri di depanku, basah kuyup, rambutnya menempel di dahi. Wajahnya, yang dulu selalu membuatku tertawa, kini dipenuhi kerutan penyesalan. Matanya, mata yang dulu berbinar penuh cinta, kini redup dan sendu. "An Xin," bisiknya, suaranya serak tertelan hujan. "Maaf." Kata itu, kata yang seharusnya kutunggu selama lima tahun, kini terasa hambar di lidahku. *Maaf*. Bisakah kata itu mengembalikan waktu? Bisakah kata itu menghapus rasa sakit yang membakar jiwaku? Dan kemudian, dia melakukannya. Dia menciumku. Di tengah hujan. Di bawah tatapan lampu-lampu kota yang tak peduli. Ciuman yang **PENUH** penyesalan, harapan, dan rasa sakit yang terpendam. Bibirnya dingin, tapi sentuhannya membangkitkan kembali api yang kupikir sudah padam. Aku ingin mendorongnya menjauh, aku *HARUS* mendorongnya menjauh, tapi tubuhku berkhianat. Tanganku malah melingkar di lehernya, membalas ciuman itu dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa. Kita berciuman, seolah-olah waktu berhenti. Seolah-olah tidak ada lima tahun yang hilang, tidak ada janji yang dilanggar, tidak ada luka yang menganga. Kita berciuman, sampai napas kita tersengal, sampai hujan mereda, sampai kenyataan kembali menampar wajahku. Dia menarik diri, menatapku dengan mata yang dipenuhi harap. "An Xin, aku..." Aku memotongnya. "Jangan. Jangan katakan apa pun." Aku berbalik, meninggalkannya berdiri di tengah jalan, di bawah sisa-sisa hujan yang menetes. Aku berjalan pergi, air mata bercampur dengan air hujan yang masih membasahi pipiku. Lima tahun lalu, dia memilih keluarganya, memilih kekayaan, memilih kekuasaan, daripada aku. Dia melanggar janjinya, menghancurkan hatiku, dan meremukkan mimpiku. Dan sekarang, setelah dia kehilangan segalanya, setelah keluarganya bangkrut, setelah kekuasaannya lenyap, setelah tunangannya meninggalkannya, dia *INGIN* kembali padaku? Tidak. Bukan kali ini. Lima tahun adalah waktu yang cukup lama untuk merencanakan sesuatu. Lima tahun adalah waktu yang cukup lama untuk memanipulasi, mengendalikan, dan memastikan bahwa kejatuhannya bukan hanya kejatuhan finansial, tapi kejatuhan *total*. Aku telah memastikan bahwa setiap orang yang mengkhianatiku akan membayar harganya. Dan dia? Dia akan membayar lebih dari siapa pun. Aku tersenyum. Senyum yang dingin dan mematikan. Aku telah memastikan dia akan merindukanku selamanya, sementara aku, aku akan membuatnya menyesali hari di mana dia pernah menciumku, dan hari di mana dia pernah meninggalkanku. Dia menginginkan cinta? Aku akan memberinya neraka yang dibungkus dalam kemasan cinta. *Mungkin aku mencintaimu dulu, tapi sekarang, yang kurasakan hanyalah janji yang lebih kuat: keadilan yang pahit.*
You Might Also Like: 63 Cara Pelembab Lokal Yang Bisa
Share on Facebook