Baiklah, inilah cerita pendek bergaya dracin yang kamu minta: **Ratu yang Terlupa** Bulan pucat menggantung di atas istana, sinarnya membelai danau lotus yang sunyi. Dari balik tirai sutra kamar ratu, alunan *guqin* melantun sendu, menyayat hati seperti sembilu. Setiap nada adalah penyesalan, setiap getaran adalah janji yang dilanggar. Ratu Meiling, yang dikenal dengan ketegasan dan kecantikannya yang abadi, duduk bersimpuh di depan meja rias. Wajahnya pucat pasi, hanya diterangi cahaya lilin yang berkedip. Di tangannya tergenggam sebuah liontin perak berbentuk naga, matanya terbuat dari batu safir yang redup. "Li Wei… maafkan aku," bisiknya, suaranya serak tertelan malam. Dulu, sebelum mahkota dingin ini bertengger di kepalanya, Meiling adalah gadis desa biasa. Li Wei adalah kekasihnya, seorang prajurit gagah berani dengan senyum yang mampu menghangatkan musim dingin. Mereka berjanji sehidup semati di bawah pohon persik yang sedang bermekaran. Namun takdir berkata lain. Kerajaan membutuhkan seorang ratu, dan Meiling terpilih. Ia berjanji pada rakyatnya, janji untuk kemakmuran dan kedamaian. Tapi jauh di lubuk hatinya, janji itu hanya untuk satu nama yang telah mati – **Li Wei**, yang gugur di medan perang, demi melindunginya, demi janji yang takkan pernah terpenuhi. Bertahun-tahun berlalu. Meiling memerintah dengan bijaksana, tapi hatinya beku. Ia menikahi kaisar, menghasilkan pewaris takhta, tapi **JIWANYA** tetap terpaut pada kenangan Li Wei. Semua orang mengira ia kuat, tegar, tak tersentuh. Mereka tidak tahu, dibalik tirai kekuasaan, Meiling menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kerajaan. Rahasia tentang kematian Li Wei. *** Suatu malam, seorang kasim tua mendekatinya. "Yang Mulia," bisiknya, "Saya menemukan ini di gudang istana." Ia menyodorkan sebuah kotak kayu usang. Meiling membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah surat, ditulis dengan tangan Li Wei. Surat itu tidak pernah sampai padanya. *Meiling-ku, Jika kau membaca surat ini, berarti aku telah pergi. Jangan bersedih. Aku melakukan ini untukmu, untuk masa depanmu. Ingatlah selalu cintaku padamu. Tapi ada satu hal yang harus kau tahu: Kematianku BUKAN kecelakaan. Aku dibunuh. Oleh seseorang yang menginginkan kekuasaanmu.* Jantung Meiling berdegup kencang. Dibunuh? Siapa? Kasim itu melanjutkan, "Surat ini ditujukan kepada Jenderal Zhao, komandan pasukan kerajaan saat itu. Jenderal Zhao menyembunyikan surat ini dan mengatakan pada semua orang bahwa Li Wei gugur dalam pertempuran." Jenderal Zhao… orang kepercayaan kaisar, pahlawan kerajaan. Kenapa dia melakukan ini? Meiling diam. Ia tidak berteriak, tidak menuduh. Ia hanya menyimpannya dalam hati. Balas dendam yang sebenarnya bukanlah pertumpahan darah, tapi melihat takdir berbalik arah. Beberapa bulan kemudian, kaisar wafat. Pewaris takhta masih terlalu muda untuk memerintah. Sesuai tradisi, dewan kerajaan memilih seorang wali untuk sementara. Dan, *dengan 'kebetulan' yang aneh*, Jenderal Zhao terpilih. Namun, di balik senyum kemenangan Zhao, Meiling tahu. Ia tahu bahwa Zhao tidak akan pernah bisa benar-benar mengendalikan kerajaan. Terlalu banyak musuh, terlalu banyak intrik. Perlahan tapi pasti, kekuasaan Zhao tergerus. Skandal demi skandal mencuat, satu per satu orang kepercayaannya jatuh. Akhirnya, Zhao dijebak atas tuduhan pengkhianatan. Ia diadili dan dijatuhi hukuman mati. Saat Zhao digiring menuju tempat eksekusi, ia menatap Meiling dengan tatapan penuh amarah dan ketakutan. "Kau… kau tahu?" bisiknya. Meiling hanya tersenyum tipis. Tidak ada kemenangan di sana, hanya **KESEDIHAN**. *** Keesokan harinya, Meiling meletakkan liontin naga di makam Li Wei. "Kau bebas sekarang," bisiknya. Ia kembali ke istana, ke tahtanya. Ia akan terus memerintah, demi rakyatnya, demi janji yang dilanggar, dan demi kenangan yang abadi. Tapi bayangan Li Wei akan selalu menghantuinya, mengingatkannya bahwa kebahagiaan sejati telah direnggut darinya. Ratu itu berjanji pada rakyatnya, tapi janjinya hanya untuk satu nama yang telah mati, dan kini, ia bertanya-tanya, apakah rasa bersalah dan penyesalan ini akan *PERNAH* bisa terhapuskan dari hatinya yang terluka?
You Might Also Like: Absurd Tapi Seru Air Mata Yang Menjadi
Share on Facebook