Baiklah, ini dia kisah modern dracin berjudul 'Bayangan yang Membawa Racun': **Bayangan yang Membawa Racun** Hujan kota Jakarta. Bunyinya seperti *desahan* panjang di kaca jendela apartemen Lin Xi. Aroma kopi pahit mengepul, menari-nari dengan asap rokok yang juga getir. Di layar ponselnya, sisa chat yang tak terkirim pada Zhang Wei. Kata-kata itu menggantung, seperti *mimpi buruk* yang enggan berlalu. Lin Xi dan Zhang Wei. Kisah mereka dimulai dari notifikasi. Sebuah *like* di Instagram, lalu obrolan singkat tentang senja di rooftop. Pertemuan demi pertemuan, kopi yang sama, dan tawa yang terasa begitu *nyata*. Mereka seperti dua bintang yang bertabrakan, menghasilkan galaksi yang indah sekaligus berbahaya. Tapi galaksi itu runtuh. Zhang Wei menghilang. Tanpa penjelasan, tanpa jejak. Hanya pesan singkat: "Maaf." Satu kata itu terasa seperti *racun* yang perlahan membunuh Lin Xi dari dalam. Kenangan itu seperti bayangan. Mengikuti ke mana pun Lin Xi pergi. Aroma kopi mengingatkannya pada ciuman pertama mereka. Hujan kota mengingatkannya pada janji yang tak ditepati. Ponselnya *berdering* setiap malam, harapan palsu bahwa Zhang Wei akan kembali. Lin Xi mencoba melupakan. Berkencan dengan orang lain, mengejar karier, tertawa bersama teman-teman. Tapi di balik semua itu, ada lubang yang menganga. Lubang bernama Zhang Wei. Suatu malam, Lin Xi menemukan sebuah folder tersembunyi di laptop Zhang Wei. Isinya: foto-foto. Foto Lin Xi. Foto Lin Xi yang diambil secara diam-diam. Foto Lin Xi yang terlihat bahagia, sedih, marah, dan *rentan*. Tapi ada satu foto yang membuatnya tertegun. Foto Zhang Wei. Berdiri di depan rumah sakit jiwa. Matanya kosong. Rahasia itu terungkap. Zhang Wei menderita skizofrenia. Penyakit yang membuatnya takut menyakiti Lin Xi. Penyakit yang membuatnya memutuskan untuk menghilang. Lin Xi merasakan sakit yang *menusuk*. Bukan hanya kehilangan, tapi juga penyesalan. Penyesalan karena tidak menyadari, karena tidak bertanya, karena *tidak cukup mencintai*. Beberapa bulan kemudian, Lin Xi berdiri di depan makam Zhang Wei. Hujan masih turun. Dia meletakkan seikat bunga Lily putih, bunga kesukaan Zhang Wei. Dia menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma tanah basah. Lalu dia mengirim pesan terakhir pada nomor Zhang Wei. "Terima kasih atas galaksi yang pernah kita ciptakan. Aku mengerti sekarang. Aku memaafkanmu." Lin Xi mematikan ponselnya. Dia berjalan menjauh, meninggalkan makam Zhang Wei di bawah *gerimis*. Dia tidak menangis. Dia tidak menoleh ke belakang. Dia hanya tersenyum. Senyum yang dingin, senyum yang pahit, senyum *balas dendam* yang lembut. Karena Lin Xi tahu. Cinta itu bisa menjadi obat. Tapi cinta juga bisa menjadi *racun*. Dan dia telah memilih untuk meminum racun itu sampai habis. Dia menutup pintu hatinya. *Sampai debu kembali menjadi debu, dan kenangan menjadi abu...*
You Might Also Like: Emerald Advance Loan Denied Unveil
Share on Facebook